05
Nov
09

proyek jalan

WD251Seperti yang tertera di plang disamping ini, proyek dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) pemerintah kabupaten gianyar yang beralamatkan Jl. Raya Bona, Gianyar. Dalam pengerjaan proyek pembuatan dinding penahan tanah dan buis beton yang berlokasikan di Br. mancawarna dan Br. Kulub. Proyek ini, dimulai dati tanggal 04-agustus-2009. Dan pengerjaannya rampung pada akhir bulan oktober. Yang sebelumnya telah mengalami kebobolan yang kedua kalinya dinding penahan tanah yang telah dibuat. Proyek jalan ini yang dikerjakan oleh CV. PANCA JAYA yang masa pemeliharaannya selama 180 hari kalender atau selama 6 bulan.Jebol ke 2x Dalam gambar ini sempat saya jepret waktu pulang kampung.  Dan pihak pengerjaan proyekpun segera memperbaiki ulang tembok penahan dinding. Karena robohnya penahan dinding tanah yang diakibatkan bocornya salura pipa PDAM di lokasi pembuatan dinding tanah. Setelah pihak PDAM memperbaiki saluran pipa yang bocor proyek ini bisa berjalan seperti biasa sesuai dengan apa yang diharapkan. Dan pihak pengerjaan proyek memperbaiki apa yang kurang dalam pengerjaan seperti di tambahnya besi-besi sebagai penguat dinding penahan tanah. Dan proyek inipun bisa rampung sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam pengerjaan proyek selama 3 bulan kalender.

Pada kesempatan ini, Kami segenap masyarakat Br. adat Kulub mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada semua pihak yang telah terlibat dalam proyek jalan menuju Br. Mancawarna dan Br. Kulub.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

02
Nov
09

Purnama Kelima

Purnama sasih kelima merupan hari  Piodalan di pura desa Banjar adat Kulub. Yang acara piodalan pada purnama sasih kelima ini antara lain :

  • Pada tanggal 30-oktober, Nedunan Ida Bhatara (turun kabeh) ring Pura Ulun Suwi.
  • Pada tanggal 31-oktober, Puncak Piodalan di Pura Ulun Suwi.
  • Pada tanggal 1-nopember, Ida Bhatara kayun lunga ring Pura Desa banjar adat Kulub.
  • pada tanggal 2-nopember, Puncak Piodalan pada Purnama sasih kelima di Pura Desa.  Yang dilanjutkan dengan upacara Ida Bhatara Ngeluhur (Pasineban).

Biaya Piodalan yang dihaturkan,  dari dana punia atau Peturunan dari Desa banjar adat kulub. yang terdiri dari 60 pengayah desa. Yang sebagai penanggung jawab dan panitia karya piodalan adalah I Nyoman Sirem Supana.Drs selaku Bendesa banjar adat Kulub. Panitia piodalan :

  • Juru Apad. Yang bertugas untuk memimpin pelaksanaan piodalan dalam hal upakara. yang terdiri dari 8 orang. yang disebut dengan ” Jero Guru” miwah sane istri-istri.
  • Para Penyarikan , Pekaseh, Petajuh
  • Para Sekaa Gong, Sekaa Baris, Sekaa rejang miwah para Pesantian.
  • Para yowana
  • Penanggung jawab : I NYoman Sirem Supana.Drs selaku bendesa banjar adat kulub.

Begitulah sekilas tentang upacara Piodalan pada purnamaning sasih Kelima yang jatuh pada tanggal 02-nopember 2009. Tidak luput saya sebagai penulis mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada kekurangan dalam tulisan ini. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih banyak.

22
Okt
09

Tabuh Rah (Blood Sacrifice)

Tabuh Rah adalah taburan darah binatang korban yang dilaksanakan dalam rangkaian upacara agama (yadnya). Tabuh rah dilakukan di setiap 6 bulan menurut kalender bali tepatnya pada HAri Raya Galungan dilaksanakan upacara Tabuh Rah di Banjar Adat Kulub.

Tabuh Rah
PENGERTIAN TABUH RAH.
Tabuh rah adalah taburan darah binatang korban yang dilaksanakan dalam rangkaian upacara agama (yadnya).

TABUH RAH (Blood Sacrifice)

  1. PENGERTIAN TABUH RAH.
    Tabuh rah adalah taburan darah binatang korban yang dilaksanakan dalam rangkaian upacara agama (yadnya).

  2. SUMBER PENGGUNAAN TABUH RAH.
    Sumber penggunaan tabuh rah terdapat pada Panca Yadnya.
  3. DASAR- DASAR PENGGUNAAN TABUH RAH.
    Dasar- dasar penggunaan tabuh rah tercantum di dalam :

    1. Prasasti Bali Kuna (Tambra prasasti).
      1. Prasasti Sukawana A l 804 Çaka.
      2. Prasasti Batur Abang A 933 Çaka.
      3. Prasasti Batuan 944 Çaka.
    2. Lontar- lontar antara lain :
      1. Siwatattwapurana.
      2. Yadnyaprakerti.

  4. FUNGSI TABUH RAH:
    Fungsi tabuh rah adalah runtutan/ rangkaian dan upacara/ upakara agama (Yadnya).
  5. WUJUD TABUH RAH:
    Tabuh Rah berwujud taburan darah binatang korban.
  6. SARANA :
    Jenis- jenis binatang yang dijadikan korban yaitu : ayam, babi, itik, kerbau, dan lain- lainnya.
  7. CARA PENABURAN DARAH
    Penaburan darah dilaksanakan dengan menyembelih, “perang satha ” (telung perahatan) dilengkapi dengan adu- aduan : kemiri; telur; kelapa; andel- andel; beserta upakaranya

  8. PELAKSANAAN TABUH RAH:
    1. Diadakan pada tempat dan saat- saat upacara berlangsung oleh sang Yajamana.
    2. Pada waktu perang satha disertakan toh dedamping yang maknanya sebagai pernyataan atau perwujudan dari keikhlasan Sang Yajamana beryadnya, dan bukan bermotif judi.
    3. Lebih lanjut mengenai pelaksanaan tabuh rah, klik di sini.
  9. Aduan ayam yang tidak memenuhi ketentuan- ketentuan tersebut di atas tidaklah perang satha dan bukan pula runtutan upacara Yadnya.
  10. Di dalam prasasti- prasasti disebutkan bahwa pelaksanaan tabuh rah tidak minta ijin kepada yang berwenang.
  11. Penjelasan- penjelasan: di link bawah ini:

Babad Bali


16
Okt
09

Kebobolan yang kedua kalinya!

kondisiSungguh memilukan dan menyedihkan. Semenjak dimulainya pembangunan deker jalan yang menghubungi Br. Adat Mancawarna dengan Br. Adat Kulub mengalami kebobolan yang kedua kalinya. Berarti terhitung dari awal jebolnya deker, telah mengalami kebobolan yang ketiga kalinya.

Menurut dilapangan, akibat dari kebobolan atau jebolnya  yang kedua kalinya adalah bocornya pipa PDAM yang melintas di areal pembangunan deker jalan. Yang sebelumnya beton penyangga deker sempet jebol dan roboh karena hujan.

Jebol ke 2xPembangunan  deker ini, kami sebagai warga sangat mengharapkan agar bukan hanya sekedar selesai. Namun, sangat harus dilihat dari kualitas karena ini merupakan pembangunan untuk jangka panjang. dan menurut kami dan saya sebagai penulis blog ini, merasa kurangnya kualitas dalam hal pengerjaan. Karena telah terbukti terjadinya yang kedua kalinya kebobolan dan mengulang kembali.Kami sangat mengharapkan proyek ini, bukan hanya sekedar selesai saja. Apa mungkin ini disebabkan karena kurangnya dana pembangunan???

jembatan_sementaragambar ini menunjukkan penyebrangan sementara. yang di taruh papan agar para pengendara sepeda motor bisa melintas untuk sementara.

16
Okt
09

Apa makna dari penjor?

Makna Penjor
Penjor sama dengan penyejer bagi orang yang akan melakukan yadnya suci Mawidhi Widana. Kalau dalam zaman sekarang sama dengan bendera Merah Putih yang melambangkan kemerdekaan, merdeka dalam artian tidak ada lagi yang merintangi atau melarang untuk melaksanakan yadnya suci (kemerdekaan/kemenangan Dharma melawan Adharma).
penjorBahan penjor dari bambu, yang melambangkan tingkah atau cara menuntun pelaksana, apa yang akan diunggulkan, itu yang dimuat/digantung di penjor. Bambu untuk penjor ujungnya tidak ada yang dipotong supaya tidak bermakna tiying tunggul karena kegunaan dan kekuatannya berkurang.

Dalam menancapkannya diharapkan batangnya lurus, ada ruas pada ujung bawah dan menancap ke tanah. Ini bermakna, dalam beryadnya atau dalam mengadakan suatu aktivitas mesti berdasarkan kemantapan (metu saking manah/pekayun) tur metulis ring lontar/buku, supaya tujuan yadnya tercapai.

Bambu penjor dibungkus ambu (daun enau muda) berwarna kuning, melambangkan keheningan kayun dan sampian melambangkan kesampaian kayun/tercapai tujuan dan kain putih melambangkan ketah (lumrah).

4. Makna sanggah penjor. Sanggah yang di atasnya bundar merupakan perwujudan gunung. Gunung ika ngaran giri, giri ika ngaran griya untuk mendalami pengetahuan di bidang kewikuan. Sanggah yang di atasnya segi tiga melambangkan Tri Sakti/Tri Wisesa, lambang tiga keprabuan yaitu Brahma, Wisnu, Siwa.

makna penjor oleh :
I Nyoman Wirta
Jl. Siulan, Perum Karya Samia Penatih I
Blok C 38 Denpasar

Balipost 27 Okt 2001

07
Okt
09

Rahajeng Galungan lan Kuningan

Tityang para Yowana ST. Kawula wisuda, Rahajeng Nyangra Rahina Rerahinan Jagat.

“Galungan lan Kuningan” dimogi asung kertha wara nugraha Ida Hyang Widhi Wasa sareng sinami ngemolihang kerahayuan.galungan lan kuningan

Galungan dan Kuningan

a. Riwayat Galungan

Galungan diperkirakan sudah ada sejak abad ke XI, berdasarkan antara lain :

- Kidung Panji Malat Rasmi dan Kitab Pararaton (Mpu Prapanca)

- Di India perayaan semacam ini juga ada yang dinamakan Cradha Wijaya Dacami

b. Mythology

Galungan disebutkan dalam Usana Bali berupa peperangan Mayadenawa dengan Betara Indra.

Dalam lontar Jaya Kasunu juga disebut tentang Galungan dalam pewarah-warah Bhatari Durgha kepada Sri Jaya Kasunu.

c. Filoshopy

Filsafat Galungan berpusat pada pergulatan Dharma melawan A Dharma dimana kemenangan berada dipihak Dharma.

d. Permulaan Persiapan Upacara Galungan dan Akhir Upacara Galungan

Perayaan Galungan dimulai pada hari Sabtu Kliwon Wariga/Tumpek Uduh/Tumpek Pengarah sampai dengan hari Rabu Kliwon Pahang/Budha Kliwon Pahang/Budha Kliwon Pegat Wakan/Budha Kliwon Pegat Warah, total harinya adalah 60 hari.

Adapun perinciannya adalah sbb :

1. Tumpek Wariga

Prakerti ring Sang Hyang Sangkara, dewanya tumbuh-tumbuhan. Tujuannya adalah memberitahu agar tumbuh-tumbuhan berbuah lebat karena Galungan akan segera tiba.

Sesapanya :

Kaki-kaki tityang mapengarah malih 25 dina Galungan, mabuah apang nged, nged, nged,nged.

2. Senen/Coma Paing Warigadian. Puja walin Bhatara Brahma, ngaturang aci ring paibon, memohon keselamatan diri.

3. Wrehaspati Wage Sungsang sampai dengan Budha Kliwon Pahang kegiatan pelaksanaan upacara Galungan selama 42 hari (abulan pitung dina).

Kemis wage Sungsang (Wrehaspati Wage Sungsang) sering disebut SUGIHAN JAWA. Pada hari ini merupakan hari yang sangat baik untuk Pensucian Alam Semesta (Bhuwana Agung), pamerastistan ring Bhatara Kabeh, prakertinya arerebu ring Sanggah, muang ring Merajan kunang. Dulurin pengeraratan muang pangreresikan Bhatara saha puspa wangi.

Tujuan : Mensthanakan/Ngadegang Dewa dan Pitara.

Upacara : Pensucian semua alat-alat untuk upacara hari raya Galungan.

4. Jumat/Sukra Kliwon Sungsang sering disebut SUGIHAN BALI

Pensucian Bhuana Alit/pembersihan diri sendiri/melukat dengan tirta Goraca.

5. Wuku Dungulan

a. Minggu/Redite Paing Dungulan (Penyekeban)

Turunnya Sang Hyang Tiga Wisesa, berwujud Bhuta Galungan.

Tujuannya : Disaat ini diharapkan setiap insane/umat melakuakan anyekung Jnana sudha nirmala (waspada menjaga kesucian lahir batin), sehingga dihari ini disebut Hari Penyekeban.

Namun praktek di Bali pada hari ini biasanya dipakai untuk mulai nyekeb biyu, ngae tape dsbnya.

b. Senen/Coma Pon Dungulan (Penyajaan-jaja = dada)

Turunnya Sang Bhuta Amangkurat

Tujuannya : disaat ini umat diharapkan membuktikan kesungguhan (sajaan) didalam melaksanakan Yoga Semadi untuk menghadapi godaan Sang Kala Tiga (Bhuta Amangkurat)

Prakteknya : dipakai untuk menggoreng jaja uli, jaja pepelan lan jaja-jaja yang lain.

c. Selasa/Anggara Wage Galungan (Penampahan = nampa)

Turunnya Sang Bhuta Dungulan

Upacara : a. A bhuta yadnya ring catus pata dan dihalaman rumah

b. Memberi Pasupati pada sarwa senjata.

Tujuan : Jaya Prakoseng Perang ( Berhasil mengalahkan Musuh/godaan Sang Kala Tiga, untuk menyambut kedatangan (nampa) hari raya Galungan

Prakteknya : dipakai untuk nampah celeng, nampah siap, ngelawar dll

d. Rabu/Budha Kliwon Dungulan (HR Galungan)

Klimaks upacara : Menghaturkan sesaji disemua tempat-tempat dan alat-alat.

Tujuannya : Memusatkan pikiran kepada Kesucian dengan melepaskan diri dari segala keragu-raguan.

Prakteknya : Maturan dirumah disemua tempat seperti di paon/kompor, di pulu/tempat beras, disumur/tempat air, dilaapan, disanggah pamerajan, kawitan dan semua tempat suci/yang disucikan, mebakti ngelungsur waranugraha dan keselamatan.

e. Sabtu/Saniscara Pon Dungulan (Pamaridan Guru = Nyurud Tumpeng Guru)

Upacara : Pada saat ini umat melaksanakan pembersihan diri dan metirta gocara untuk nyurud prasadam Beliau.

f. Minggu/Redite Wage Kuningan (Ulihan = oleh-oleh)

Pada hari ini adalah hari dimana Ida Bhatara, Dewa dan Pitara kembali ke Sunya Loka, umat diharapkan menghaturkan persembahan oleh-oleh berupa rempah-rempah urutan, beras/padi, palagantung (tegen-tegenan) dlsbnya.tamiang

g. Senen/Coma Kliwon Kuningan (Pemacekan Agung)

Pada hari ini merupakan tonggak batas antara permulaan dan berakhirnya rangkaian kegiatan HR Galungan (30 hari kemuka dan 30 hari kebelakang) yang dimulai dari Tumpek Wariga sampai dengan Budha Kliwon Pahang.

Upacara : Pesegehan Agung ring Dengen, dengan penyambleh ayam samalulung.

Tujuannya : Mengembalikan Sang Kala Tiga (Galungan, Amangkurat dan Dungulan) beserta para perancah pengiringnya.

h. Rabu/Budha Paing Kuningan (Pujawali Bhatara Wisnu)

Menghaturkan aci ring paibon memohon keselamatan diri.

i. Jumat/Sukra Wage Kuningan (Penampahan Kuningan)

Persiapan untuk menghadapi HR Kuningan dengan melenyapkan pikiran-pikiran kotor, sedangkankegiatan upacara tidak ada pada saat itu.

j. Sabtu/Saniscara Kliwon Kuningan (HR Kuningan)

Turunnya para Dewa/Bhatara, Pitara bersuci-suci, untuk muktyang sesajen persembahan umat/damuhnya.

Pelaksanaan : dihaturkan pada pagi hari sampai sebelum tengah hari.

Pada hari ini umat diharapkan memasang Tamyang Kolem yang merupakan parade Prkoseng Perang ( Simbol Kemenangan Dharma melawan A Dharma). Dan membuat Nasi Kuning (tebog) dengan hiasan-hiasan yang serba kuning adalah simbol bakti lan asih.

6. Wuku Pahang

Rabu/Budha Kliwon Pahang (Pegat Wakan/Pegat Warah)

Adalah merupakan akhir dari pelaksanaan Tapa Brata, yang juga merupakan akhir daripada pelaksanaan kegiatan HR Galungan dan Kuningan manut sekadi Pewarah-warah Bhatari Durgha kepada Sri Aji Jaya Kasunu (Lontar Jaya Kasunu), serta warah dari sang Hyang Suksma Licin kepada para Pandita (Lontar Sundarigama).

dikutif dari: “Pinandita Sanggraha Nusantara”

31
Agu
09

Rasa Syukur

“Biyukukung” Rasa syukur kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa,tetap dilaksanakan bagi umat hindu yang ada di bali. Walau kenyataannya hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan. Seperti gambar disamping telah membuktikan bagaimana rasa syukur itu tetap dipanjatkan dan dihaturkan kepada hyang maha kuasa. sanggah dan penjor biukukungWalaupun hasil dari tanduran/ padi yang ditanam tidak menghasilkan seperti yang diharapkan. Karena bibit padi yang ditanam kekurangan air untuk irigasi pertanian. Yang mengakibatkan padi tidak dapat menghasilkan seperti yang diharapkan. Semuanya kosong tanpa isi, padi mereka jadi berubah warna merah karena kurangnya air. Begitu sulit untuk mengairi sawah-sawah mereka. Seperti yang terjadi didaerah kami di Br. Adat Kulub. Sawah-sawah yang ada jadi kering karena kekurangan air irigasi. Dalam hal ini, pihak subak Kulub tidak bisa berbuat banyak karena memang pasokan air yang masuk ke sawah-sawah pertanian begitu minim sekali. Kecuali di musim penghujan mereka bisa menanam padi dengan pasokan air yang cukup dari hujan.Pasokan air tidak seperti dulu lagi waktu kami masih anak-anak. Apa mungkin disebabkan karena terjadinya longsor yang mengakibatkan tanggul-tanggul pengairan jadi rusak dan airpun terbuang karena keluar dari sungai pengairan irigasi sawah. Kejadian ini sudah sering dialami bagi subak yang ada di Banjar Adat kami. Namun, saat ini juga belum ada penyelesaian yang bisa berkesinambungan dalam pengairan. Padahal sistem perbaikan tanggul-tanggul secara gotong royong (Subak Kempelan) sering dilakukan apabila terjadi tanggul air yang rusak atau longsor / bocor yang biasanya terjadi pada musim penghujan.

Apakah Makna Dari Biukukung.

Pengertian Mebiukukung sering kali disebut mabekukung atau biukukung. Tradisi agraris yang satu ini dilaksanakan untuk petani yang bercocok tanam padi di sawah. Upacara ini dilaksanakan ketika tanaman padi hendak hamil, atau sedang hamil muda.

Upacara mabiukukung dilakukan di sawah-sawah, atau tepatnya pada cakanganpintu air atau lebih mirip disebut lubang air yang menjadi tempat (hulu) masuknya air di tiap petak-petak sawah garapannya. Pada upacara biukukung, pemuput-nya tak mesti menggunakan pemangku, melainkan cukup pemilik atau penggarap sawah tersebut juga bisa.

biukukungUniknya ada pada bebantenan dan pelaksanaannya. Seolah-olah melembaga dan baku, banten biukukung terdiri atas blayag, ketipat gantusan, rujak manis, ampo (camilan dari tanah liat yang biasanya jadi bahan gerabah dibakar), kungkang (orang-orangan berjenis kelamin lanang-istri yang terbuat dari busungdaun kelapa muda), sampaian kakul, umbi-umbian seperti ubi jalar (jamak), ubi jawa (ketela pohon), keladi. Ada juga umbi-umbian yang digoreng yang ditaruh pada tadah sukla. Tak lupa nyah-nyah geringsing, baas kuning, kacang-kacangan. Sebagai pelengkap juga ada pisang goreng, godoh, dan jajanan lainnya.

Banten pengoak ditaruh pada papah enau (tua) yang dibiarkan daun di bagian atas bergerai, lalu dihias dengan ambu. Banten pengoak yang dibuat satu tamas ditaruh menggelantung di sana. Ada pula acara megoak-goakanbila menyertakan anak-anak. Anak-anak ini lalu menjadi goak (burung gagak hitam). Anak-anak akan berteriak goaaaaak, goaaaaaak, goaaaaakbersahut-sahutan.

Setelah upacara selesai, banten pengoak di-surud dan diberikan kepada anak-anak yang tadi menjadi goak. Bila tak menyertakan anak-anak, banten pengoak dibiarkan menggelantung, karena yang ngetisang tak boleh nyurud.

Usai upacara, banten-banten lain di-surud, tetapi khusus banten pengoakbila tak ada anak-anak, dibiarkan saja pada tempatnya. Namun, ada beberapa banten yang sengaja dihanyutkan di cakangan, seperti kungkang, nyah-nyah geringsing, baas kuning dan sebagainya. Sedangkan ubi jamak, ubi jawa dan ubi keladi ditanam di sawah. Tujuan dihanyutkan pada cakangan agar semua areal sawah mendapatkan aura dari upacara tersebut, sebagaimana layaknya air yang memenuhi areal persawahan tersebut yang masuk melalui cakangan itu. ”Cakangan kan sebagai hulu pada sawah tersebut. Air yang memenuhi sawah masuk lewat cakangan. Di sinilah upacara pabiukukungan dilaksanakan,” kata Mangku I Ketut Sukarena.

dikutip dari : http://pasektangkas.blogspot.com/2008/07/biukukung.html

Biyukukung, Pengertian Mebiukukung sering kali disebut mabekukung atau biukukung. Tradisi agraris yang satu ini dilaksanakan untuk petani yang bercocok tanam padi di sawah. Upacara ini dilaksanakan ketika tanaman padi hendak hamil, atau sedang hamil muda.

Upacara mabiukukung dilakukan di sawah-sawah, atau tepatnya pada cakanganpintu air atau lebih mirip disebut lubang air yang menjadi tempat (hulu) masuknya air di tiap petak-petak sawah garapannya. Pada upacara biukukung, pemuput-nya tak mesti menggunakan pemangku, melainkan cukup pemilik atau penggarap sawah tersebut juga bisa.

Uniknya ada pada bebantenan dan pelaksanaannya. Seolah-olah melembaga dan baku, banten biukukung terdiri atas blayag, ketipat gantusan, rujak manis, ampo (camilan dari tanah liat yang biasanya jadi bahan gerabah dibakar), kungkang (orang-orangan berjenis kelamin lanang-istri yang terbuat dari busungdaun kelapa muda), sampaian kakul, umbi-umbian seperti ubi jalar (jamak), ubi jawa (ketela pohon), keladi. Ada juga umbi-umbian yang digoreng yang ditaruh pada tadah sukla. Tak lupa nyah-nyah geringsing, baas kuning, kacang-kacangan. Sebagai pelengkap juga ada pisang goreng, godoh, dan jajanan lainnya.

Banten pengoak ditaruh pada papah enau (tua) yang dibiarkan daun di bagian atas bergerai, lalu dihias dengan ambu. Banten pengoak yang dibuat satu tamas ditaruh menggelantung di sana. Ada pula acara megoak-goakanbila menyertakan anak-anak. Anak-anak ini lalu menjadi goak (burung gagak hitam). Anak-anak akan berteriak goaaaaak, goaaaaaak, goaaaaakbersahut-sahutan.

Setelah upacara selesai, banten pengoak di-surud dan diberikan kepada anak-anak yang tadi menjadi goak. Bila tak menyertakan anak-anak, banten pengoak dibiarkan menggelantung, karena yang ngetisang tak boleh nyurud.

Usai upacara, banten-banten lain di-surud, tetapi khusus banten pengoakbila tak ada anak-anak, dibiarkan saja pada tempatnya. Namun, ada beberapa banten yang sengaja dihanyutkan di cakangan, seperti kungkang, nyah-nyah geringsing, baas kuning dan sebagainya. Sedangkan ubi jamak, ubi jawa dan ubi keladi ditanam di sawah. Tujuan dihanyutkan pada cakangan agar semua areal sawah mendapatkan aura dari upacara tersebut, sebagaimana layaknya air yang memenuhi areal persawahan tersebut yang masuk melalui cakangan itu. ”Cakangan kan sebagai hulu pada sawah tersebut. Air yang memenuhi sawah masuk lewat cakangan. Di sinilah upacara pabiukukungan dilaksanakan,” kata Mangku I Ketut Sukarena.

29
Agu
09

Suksma

Kami keluarga besar ST Kawula wisuda (Sekaa Teruna) dan Banjar  adat Kulub, mengucapkan terima kasih kepada pihak yang terkait PU Pemda Gianyar. Yang telah membantu proyek pembangunan jalan yang ada di Br. Adat Kulub. Dan pihak yang telah memperjuangkan kepentingan masyarakat untuk pembangunan deker jalan yang ada di banjar adat kulub.

Kami ucapkan terima kasih banyak kepada Bapak I Gst Ngurah Purbaya yang telah banyak membantu  kegiatan-kegiatan baik pembangunan di banjar adat kulub maupun kegiatan yang diadakan STT. Kawula Wisuda.

Saat ini pembangunannya masih dalam proses penyelesaian. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini proses pembangunan bisa selesai. Dan sarana transportasi bisa dipakai seperti pada sebelumnya.

mudah-mudahan untuk kedepannya, Pemda Gianyar selalu peduli dan memperhatikan kepentingan umum  masyarakatnya yang ada di pedesaan terutama sarana transportasi seperti jalan. Karena jalan merupakan sarana yang sangat penting untuk transportasi dalam mewujudkan kemajuan masyarakat di pedesaan.

17
Jul
09

Goyang bersama Indosat

Dalam rangka program dari indosat yang bertema IM3nggoyang Bali. Yang salah satu diadakan di Tampaksiring KAB. Gianyar, tepatnya di Br. Kulub, Tampaksiring pada tanggal 10 juni 2009.

wayan lagi goyang apa digoyang?

wong kentir

meli tipat sing ngaba wadah. meli kacang sing nyidang makpak

Lanjutkan membaca ‘Goyang bersama Indosat’

08
Jul
09

semakin terpuruk dan menunggu ambruk

Bagaimana caranya kalau sarana Transportasi seperti ini?????
bisakah anda bayangkan????

ini adalah bukti video kedua  keadaan jalan yang ada di Br.Adat Kulub. Yang semakin melebar dari video yang pertama.

bagi pihak-pihak yang terkait seperti pemda Kabupaten Gianyar terutama PU (pekerjaan umum) Mudah-mudahan segera memperbaiki keadaan jalan ini. dan penghubung banjar adat kami tidak berlarut-larut seperti ini.