Arsip untuk Oktober, 2009

22
Okt
09

Tabuh Rah (Blood Sacrifice)

Tabuh Rah adalah taburan darah binatang korban yang dilaksanakan dalam rangkaian upacara agama (yadnya). Tabuh rah dilakukan di setiap 6 bulan menurut kalender bali tepatnya pada HAri Raya Galungan dilaksanakan upacara Tabuh Rah di Banjar Adat Kulub.

Tabuh Rah
PENGERTIAN TABUH RAH.
Tabuh rah adalah taburan darah binatang korban yang dilaksanakan dalam rangkaian upacara agama (yadnya).

TABUH RAH (Blood Sacrifice)

  1. PENGERTIAN TABUH RAH.
    Tabuh rah adalah taburan darah binatang korban yang dilaksanakan dalam rangkaian upacara agama (yadnya).

  2. SUMBER PENGGUNAAN TABUH RAH.
    Sumber penggunaan tabuh rah terdapat pada Panca Yadnya.
  3. DASAR- DASAR PENGGUNAAN TABUH RAH.
    Dasar- dasar penggunaan tabuh rah tercantum di dalam :

    1. Prasasti Bali Kuna (Tambra prasasti).
      1. Prasasti Sukawana A l 804 Çaka.
      2. Prasasti Batur Abang A 933 Çaka.
      3. Prasasti Batuan 944 Çaka.
    2. Lontar- lontar antara lain :
      1. Siwatattwapurana.
      2. Yadnyaprakerti.

  4. FUNGSI TABUH RAH:
    Fungsi tabuh rah adalah runtutan/ rangkaian dan upacara/ upakara agama (Yadnya).
  5. WUJUD TABUH RAH:
    Tabuh Rah berwujud taburan darah binatang korban.
  6. SARANA :
    Jenis- jenis binatang yang dijadikan korban yaitu : ayam, babi, itik, kerbau, dan lain- lainnya.
  7. CARA PENABURAN DARAH
    Penaburan darah dilaksanakan dengan menyembelih, “perang satha ” (telung perahatan) dilengkapi dengan adu- aduan : kemiri; telur; kelapa; andel- andel; beserta upakaranya

  8. PELAKSANAAN TABUH RAH:
    1. Diadakan pada tempat dan saat- saat upacara berlangsung oleh sang Yajamana.
    2. Pada waktu perang satha disertakan toh dedamping yang maknanya sebagai pernyataan atau perwujudan dari keikhlasan Sang Yajamana beryadnya, dan bukan bermotif judi.
    3. Lebih lanjut mengenai pelaksanaan tabuh rah, klik di sini.
  9. Aduan ayam yang tidak memenuhi ketentuan- ketentuan tersebut di atas tidaklah perang satha dan bukan pula runtutan upacara Yadnya.
  10. Di dalam prasasti- prasasti disebutkan bahwa pelaksanaan tabuh rah tidak minta ijin kepada yang berwenang.
  11. Penjelasan- penjelasan: di link bawah ini:

Babad Bali


16
Okt
09

Kebobolan yang kedua kalinya!

kondisiSungguh memilukan dan menyedihkan. Semenjak dimulainya pembangunan deker jalan yang menghubungi Br. Adat Mancawarna dengan Br. Adat Kulub mengalami kebobolan yang kedua kalinya. Berarti terhitung dari awal jebolnya deker, telah mengalami kebobolan yang ketiga kalinya.

Menurut dilapangan, akibat dari kebobolan atau jebolnya  yang kedua kalinya adalah bocornya pipa PDAM yang melintas di areal pembangunan deker jalan. Yang sebelumnya beton penyangga deker sempet jebol dan roboh karena hujan.

Jebol ke 2xPembangunan  deker ini, kami sebagai warga sangat mengharapkan agar bukan hanya sekedar selesai. Namun, sangat harus dilihat dari kualitas karena ini merupakan pembangunan untuk jangka panjang. dan menurut kami dan saya sebagai penulis blog ini, merasa kurangnya kualitas dalam hal pengerjaan. Karena telah terbukti terjadinya yang kedua kalinya kebobolan dan mengulang kembali.Kami sangat mengharapkan proyek ini, bukan hanya sekedar selesai saja. Apa mungkin ini disebabkan karena kurangnya dana pembangunan???

jembatan_sementaragambar ini menunjukkan penyebrangan sementara. yang di taruh papan agar para pengendara sepeda motor bisa melintas untuk sementara.

16
Okt
09

Apa makna dari penjor?

Makna Penjor
Penjor sama dengan penyejer bagi orang yang akan melakukan yadnya suci Mawidhi Widana. Kalau dalam zaman sekarang sama dengan bendera Merah Putih yang melambangkan kemerdekaan, merdeka dalam artian tidak ada lagi yang merintangi atau melarang untuk melaksanakan yadnya suci (kemerdekaan/kemenangan Dharma melawan Adharma).
penjorBahan penjor dari bambu, yang melambangkan tingkah atau cara menuntun pelaksana, apa yang akan diunggulkan, itu yang dimuat/digantung di penjor. Bambu untuk penjor ujungnya tidak ada yang dipotong supaya tidak bermakna tiying tunggul karena kegunaan dan kekuatannya berkurang.

Dalam menancapkannya diharapkan batangnya lurus, ada ruas pada ujung bawah dan menancap ke tanah. Ini bermakna, dalam beryadnya atau dalam mengadakan suatu aktivitas mesti berdasarkan kemantapan (metu saking manah/pekayun) tur metulis ring lontar/buku, supaya tujuan yadnya tercapai.

Bambu penjor dibungkus ambu (daun enau muda) berwarna kuning, melambangkan keheningan kayun dan sampian melambangkan kesampaian kayun/tercapai tujuan dan kain putih melambangkan ketah (lumrah).

4. Makna sanggah penjor. Sanggah yang di atasnya bundar merupakan perwujudan gunung. Gunung ika ngaran giri, giri ika ngaran griya untuk mendalami pengetahuan di bidang kewikuan. Sanggah yang di atasnya segi tiga melambangkan Tri Sakti/Tri Wisesa, lambang tiga keprabuan yaitu Brahma, Wisnu, Siwa.

makna penjor oleh :
I Nyoman Wirta
Jl. Siulan, Perum Karya Samia Penatih I
Blok C 38 Denpasar

Balipost 27 Okt 2001

07
Okt
09

Rahajeng Galungan lan Kuningan

Tityang para Yowana ST. Kawula wisuda, Rahajeng Nyangra Rahina Rerahinan Jagat.

“Galungan lan Kuningan” dimogi asung kertha wara nugraha Ida Hyang Widhi Wasa sareng sinami ngemolihang kerahayuan.galungan lan kuningan

Galungan dan Kuningan

a. Riwayat Galungan

Galungan diperkirakan sudah ada sejak abad ke XI, berdasarkan antara lain :

- Kidung Panji Malat Rasmi dan Kitab Pararaton (Mpu Prapanca)

- Di India perayaan semacam ini juga ada yang dinamakan Cradha Wijaya Dacami

b. Mythology

Galungan disebutkan dalam Usana Bali berupa peperangan Mayadenawa dengan Betara Indra.

Dalam lontar Jaya Kasunu juga disebut tentang Galungan dalam pewarah-warah Bhatari Durgha kepada Sri Jaya Kasunu.

c. Filoshopy

Filsafat Galungan berpusat pada pergulatan Dharma melawan A Dharma dimana kemenangan berada dipihak Dharma.

d. Permulaan Persiapan Upacara Galungan dan Akhir Upacara Galungan

Perayaan Galungan dimulai pada hari Sabtu Kliwon Wariga/Tumpek Uduh/Tumpek Pengarah sampai dengan hari Rabu Kliwon Pahang/Budha Kliwon Pahang/Budha Kliwon Pegat Wakan/Budha Kliwon Pegat Warah, total harinya adalah 60 hari.

Adapun perinciannya adalah sbb :

1. Tumpek Wariga

Prakerti ring Sang Hyang Sangkara, dewanya tumbuh-tumbuhan. Tujuannya adalah memberitahu agar tumbuh-tumbuhan berbuah lebat karena Galungan akan segera tiba.

Sesapanya :

Kaki-kaki tityang mapengarah malih 25 dina Galungan, mabuah apang nged, nged, nged,nged.

2. Senen/Coma Paing Warigadian. Puja walin Bhatara Brahma, ngaturang aci ring paibon, memohon keselamatan diri.

3. Wrehaspati Wage Sungsang sampai dengan Budha Kliwon Pahang kegiatan pelaksanaan upacara Galungan selama 42 hari (abulan pitung dina).

Kemis wage Sungsang (Wrehaspati Wage Sungsang) sering disebut SUGIHAN JAWA. Pada hari ini merupakan hari yang sangat baik untuk Pensucian Alam Semesta (Bhuwana Agung), pamerastistan ring Bhatara Kabeh, prakertinya arerebu ring Sanggah, muang ring Merajan kunang. Dulurin pengeraratan muang pangreresikan Bhatara saha puspa wangi.

Tujuan : Mensthanakan/Ngadegang Dewa dan Pitara.

Upacara : Pensucian semua alat-alat untuk upacara hari raya Galungan.

4. Jumat/Sukra Kliwon Sungsang sering disebut SUGIHAN BALI

Pensucian Bhuana Alit/pembersihan diri sendiri/melukat dengan tirta Goraca.

5. Wuku Dungulan

a. Minggu/Redite Paing Dungulan (Penyekeban)

Turunnya Sang Hyang Tiga Wisesa, berwujud Bhuta Galungan.

Tujuannya : Disaat ini diharapkan setiap insane/umat melakuakan anyekung Jnana sudha nirmala (waspada menjaga kesucian lahir batin), sehingga dihari ini disebut Hari Penyekeban.

Namun praktek di Bali pada hari ini biasanya dipakai untuk mulai nyekeb biyu, ngae tape dsbnya.

b. Senen/Coma Pon Dungulan (Penyajaan-jaja = dada)

Turunnya Sang Bhuta Amangkurat

Tujuannya : disaat ini umat diharapkan membuktikan kesungguhan (sajaan) didalam melaksanakan Yoga Semadi untuk menghadapi godaan Sang Kala Tiga (Bhuta Amangkurat)

Prakteknya : dipakai untuk menggoreng jaja uli, jaja pepelan lan jaja-jaja yang lain.

c. Selasa/Anggara Wage Galungan (Penampahan = nampa)

Turunnya Sang Bhuta Dungulan

Upacara : a. A bhuta yadnya ring catus pata dan dihalaman rumah

b. Memberi Pasupati pada sarwa senjata.

Tujuan : Jaya Prakoseng Perang ( Berhasil mengalahkan Musuh/godaan Sang Kala Tiga, untuk menyambut kedatangan (nampa) hari raya Galungan

Prakteknya : dipakai untuk nampah celeng, nampah siap, ngelawar dll

d. Rabu/Budha Kliwon Dungulan (HR Galungan)

Klimaks upacara : Menghaturkan sesaji disemua tempat-tempat dan alat-alat.

Tujuannya : Memusatkan pikiran kepada Kesucian dengan melepaskan diri dari segala keragu-raguan.

Prakteknya : Maturan dirumah disemua tempat seperti di paon/kompor, di pulu/tempat beras, disumur/tempat air, dilaapan, disanggah pamerajan, kawitan dan semua tempat suci/yang disucikan, mebakti ngelungsur waranugraha dan keselamatan.

e. Sabtu/Saniscara Pon Dungulan (Pamaridan Guru = Nyurud Tumpeng Guru)

Upacara : Pada saat ini umat melaksanakan pembersihan diri dan metirta gocara untuk nyurud prasadam Beliau.

f. Minggu/Redite Wage Kuningan (Ulihan = oleh-oleh)

Pada hari ini adalah hari dimana Ida Bhatara, Dewa dan Pitara kembali ke Sunya Loka, umat diharapkan menghaturkan persembahan oleh-oleh berupa rempah-rempah urutan, beras/padi, palagantung (tegen-tegenan) dlsbnya.tamiang

g. Senen/Coma Kliwon Kuningan (Pemacekan Agung)

Pada hari ini merupakan tonggak batas antara permulaan dan berakhirnya rangkaian kegiatan HR Galungan (30 hari kemuka dan 30 hari kebelakang) yang dimulai dari Tumpek Wariga sampai dengan Budha Kliwon Pahang.

Upacara : Pesegehan Agung ring Dengen, dengan penyambleh ayam samalulung.

Tujuannya : Mengembalikan Sang Kala Tiga (Galungan, Amangkurat dan Dungulan) beserta para perancah pengiringnya.

h. Rabu/Budha Paing Kuningan (Pujawali Bhatara Wisnu)

Menghaturkan aci ring paibon memohon keselamatan diri.

i. Jumat/Sukra Wage Kuningan (Penampahan Kuningan)

Persiapan untuk menghadapi HR Kuningan dengan melenyapkan pikiran-pikiran kotor, sedangkankegiatan upacara tidak ada pada saat itu.

j. Sabtu/Saniscara Kliwon Kuningan (HR Kuningan)

Turunnya para Dewa/Bhatara, Pitara bersuci-suci, untuk muktyang sesajen persembahan umat/damuhnya.

Pelaksanaan : dihaturkan pada pagi hari sampai sebelum tengah hari.

Pada hari ini umat diharapkan memasang Tamyang Kolem yang merupakan parade Prkoseng Perang ( Simbol Kemenangan Dharma melawan A Dharma). Dan membuat Nasi Kuning (tebog) dengan hiasan-hiasan yang serba kuning adalah simbol bakti lan asih.

6. Wuku Pahang

Rabu/Budha Kliwon Pahang (Pegat Wakan/Pegat Warah)

Adalah merupakan akhir dari pelaksanaan Tapa Brata, yang juga merupakan akhir daripada pelaksanaan kegiatan HR Galungan dan Kuningan manut sekadi Pewarah-warah Bhatari Durgha kepada Sri Aji Jaya Kasunu (Lontar Jaya Kasunu), serta warah dari sang Hyang Suksma Licin kepada para Pandita (Lontar Sundarigama).

dikutif dari: “Pinandita Sanggraha Nusantara”




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.