Air Sumber Kehidupan
Air merupakan sumber kehidupan bagi setiap insan atau mahluk hidup yang ada di alam semesta. Kita tidak bisa bayangkan bagaimana seandainya hidup yang ketergantungan pada air tetapi kita sulilt mendapatkan Air. Air sangat penting bagi tubuh kita, bila kekurangan air akan terjadi dehidrasi dan menggangu kerja tubuh. Hampir semua reaksi di dalam tubuh manusia memerlukan cairan. Agar metabolisme tubuh berjalan dengan baik, dibutuhkan masukan cairan setiap hari untuk menggantikan cairan yang hilang.
Ini adalah sekilas tentang pentingnya Air dalam kehidupan kita.
Pada kesempatan ini, saya ingin mengapreasikan semangat dan perjuangan para pemuda (penua masih muda) yang ada dikampung. Dimana mereka atau masyarakat Br.Kulub, Tampaksiring sangat mengharapkan Air bersih diLingkungan banjar kami. Tapi apa daya walau Tampaksiring merupakan Banyak sumber Air, namun sungguh disayangkan ternyata di banjar Kulub belum adanya PDAM masuk. Apa karena masyarakat kami yang kurang bertindak atau adem ayem untuk mewujudkan Air biar bisa masuk ke rumah mereka masing-masing? saya bisa jawab “TIDAK”. Masyarakat di banjar kulub telah berupaya untuk membuat swakelola sumber mata air yang terletak di utara banjar kulub. Awalnya, sangat mengembirakan. Kami dapat wujudkan walaupun dengan bekerja keras untuk mewujudkannya. Yang ditampung pada BAK yang besar ukurannya. Kebahagian itupun tidak bisa dinikmati lama karena semakin lama pompa air juga kinerjanya semakin melemah dan rentan rusak . Maka sering sekali terjadi sampai air sama sekali tidak ada untuk kebutuhan sehari-hari. Dan bahkan sekarang swakelola itu macet total. Karena pompa air mati dan rusak.
Kejadian itu memang sering dialami dan saya rasakan kalau ada libur dan pulang kampung. Kadang untuk masak saja meme( ibu meme: dlm bhs bali ) saya pas pasan apalagi buat cuci perabotan rumah tangga. Harus berjuang mencari air ke kali yang membutuhkan waktu yang lama dan melelahkan. Kadang juga air kali untuk mengairi sawah sering sekali kering( nyat. dlm bhs bali). Terpaksa harus cari air ke tukad (sungai) untuk menempuhnya sangat melelahkan. Apalagi jalan yang agak terjal.
Ini adalah sebuah cerita yang singkat menceritakan dan mengulas tentang tekad para masyarakat yang ada di banjar adat kulub. Mari kita melirik kebelakang sebagai pertimbangan. Dulu mungkin antara tahun 92-95. Karena seingat saya waktu itu duduk di bangku SMP. Mengingat kebutuhan akan air bersih sangat dibutuhkan bagi setiap mahluk hidup di dunia ini. Masyarakat yang ada di banjar adat kulub, berinisiatif untuk mengangkat sumber air yang terletak di utara banjar. Karena PDAM belum masuk ke banjar kami. Untuk mewujudkan itu, harus ada dana. Karena itu aturan yang mutlak. Iuran pokok dan wajib harus dibayarkan oleh setiap anggota. Berapa banyak iuran yang dibayar saya tidak tahu. Jarak dari banjar dengan sumber air Jaraknya Kurang lebih 1.5 km dan ketinggiannya kurang lebih 200 meteran. Dan medan tempuh yang cukup terjal. Dengan semangat untuk mewujudkan akan kebutuhan akan air bersih, masyarakat secara gotong royong dalam pengerjaannya. Dari pembuatan bak penampung sampai pemasangan pipa dikerjakan dengan bahu membahu secara gotong royong. Cobaanpun banyak ditemui di tempat pengangkatan sumber air. Seperti meledaknya tabung pompa misalnya. Karena diakibatkan terlalu curamnya letak sumber air dan penempatan pompa. Solusi demi solusipun ditempuh untuk merubah penempatan pompa sampai 3 kali bahkan lebih bongkar pasang. Sampai akhirnya didapatkan posisi yang paling cocok. Setelah berjalan beberapa hari untuk percobaan, ada kendala lagi yaitu pecahnya tabung pompa. Dan tabung pompa pun diganti dengan lebih panjang. Begitu banyak masalah yang dihadapi untuk mewujudkan impian kami. Sampai kami hampir putus asa karena tenaga ahli yang didatangkan sudah angkat tangan dan tidak punya solusi terbaik. Akhirnya masyarakat rembug (rapat) untuk mencari solusi yang terbaik. Sebagai orang hindu, setiap lokasi apalagi yang namanya tukad (sungai) adalah ada penunggu atau alam lain. Agar kelangsungan proyek tidak mengganggu penghuni yang ada di lokasi, maka dibangunlah sebuah pelinggih (tempat suci) untuk memohon agar tidak diganggu. Saling menghargai serta kita bisa saling berdampingan agar tidak mengganggu satu sama lain. Dan doa kamipun terwujud. Air dengan lancar bisa sampai pada bak penampungan. Sungguh itu adalah momen paling menyenangkan bagi kami. Berkat usaha dan kerja keras kami serta saling bahu membahu untuk mewujudkan mimpi. Dan pipa saluran ke masing2 anggotapun yang ukuran pipa yang masuk ke masing-masing anggota sama tanpa adanya alat ukur berapa kubik air yang terpakai atau meter disetiap anggota. Namun kendala masih tetap ada. Seperti kurangnya pasokan air kalau dihidupkan setiap saat ke konsumen. Dipakailah jadwal kapan dibukanya saluran ke masing-masing konsumen. Misalnya setiap pagi dan sore hari dan pada waktu siang hari dan malam hari waktu untuk pengisian bak penampungan. Begitu kami sudah merasakan sudah cukupnya akan kebutuhan akan air bersih, proyek PDAM ada di sebelah selatan banjar adat kulub. Dan melintasi wilayah banjar kami. Saya dengar-dengar dari nara sumber, karena waktu itu saya kurang memperhatikan masalah tersebut. Saya masih duduk dibangku SMP. Katanya dari pihak PDAM sempat menawarkan apa masyarakat banjar adat kulub, membutuhkan air dari PDAM lagi? Dan jawabannya tidak. Karena mereka merasa kebutuhan akan air bersih sudah dapat dipenuhi. Tanpa melihat jangka panjangnya yang memerlukan pemeliharaan secara rutinitas. Banjar adat kulub, dipilah menurut tata letaknya. Mungkin puluhan rumah terletak 200 meter jauhnya dari balai banjar. Dan dikenal dengan nama “songlayung “ karena jarak dari bak penampungan sangat jauh dan jangkauannya juga lumayan terjal. Mereka memutuskan untuk mengajukan ke PDAM dan pihak PDAM menyetui. Dan PDAM bisa dirasakan disana.
- Mang Eben sebagai sang kapten semua masalah teknis.
- Buda
- Budiasa
- Raka
- Kemana lagi kami harus mengadu????
- bagaimana lagi kami bisa mewujudkan mimpi kami???
mungkin itu salah satu pertanyaan yang mendasar sekali.
Untuk menjawab itu semua adalah jawabannya ada pada kami. Tapi paling tidak tentunya kami sangat memerlukan simpatisan dari pemerintah terutama pemda Gianyar untuk membantu masyarakatnya yang sangat membutuhkan pentingnya air bersih. Karena air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi semua kehidupan yang ada dimuka bumi ini.
Dan saya masih teringat dengan masa kecil dulu, yang sering mandi di Tukad Pejeng setiap sore bahkan dipagi hari saat libur sekolahan. Sungguh mengasikkan dan merupakan memori terindah menjadi orang desa saat-saat kecil dulu. begitu sekilas tentang TiTi untuk melewati Tukad Bangka yang panjangnya kira-kira 10 meter. Setelah melewati Tukad Bangka, turun lagi sampai ketemu dengan sebutan Tukad Pejeng. Di tukad ini Titi lebih pendek dan gampang bagi orang dewasa untuk melewati hanya satu lompatan langkah orang dewasa sudah bisa dilewati. setelah melewati Tukad Pejeng, turun lagi sampai ketemu dengan Tukad Pekerisan. Tukad yang paling bawah dan dalam tentunya. Banyak bebatuan yang besar bisa ditemukan di Tukad Ini. Namun tujuan kita bukan untuk mencari sebuah batu melainkan mencari sumber Air yang akan dipakai untuk kebutuhan Air bersih sehari-hari bagi masyarakat Banjar Adat Kulub. Mari kita lanjutkan perjalanan ini. Kita melihat sumber air yang ada terlebih dahulu. sumber air ini keluar dari bongkahan tebing batu padas yang keras dan membatu orang bali yang menyebutnya dengan Paras. Kita telusuri dan menemukan 4 titik sumber air yang keluar dari dalam batu padas itu. Dan mungkin itu adalah Air hasil dari endapan tanah dan mengandung air karena air ini terus mengalir walaupun Tukad Pejeng yang ada di dataran lebih tinggi. Untuk mencapai lokasi sumber pun dengan merayap diantara bebatuan paras yang ada. Dan tentunya sangat licin harus dengan extra hati-hati untuk melewati. karena gemercik air dari atas gak pernah berhenti.
Untuk menampung air sumber itu harus dibuatkan sebuah Talang atau Bak kecil yang nantinya disalurkan ke bak yang lebih besar yang disebut dengan Bak Penampung sumber Air tersebut. Kita bisa bayangkan betapa susah dan sulitnya pembuatan bak kecil yang ada di sebelah kanan. Bawa hahan seperti batako, semen yang sudah tercampur dengan pasir dan kerikil. harus extra hati-hati. Ini bisa dibangun karena semangat dan perjuangan Masyarakat adat kulub terutama yang sadar akan kebutuhan air. Karena dalam pengerjaannya secara gotong-royong atau tidak mendapatkan upah. Hanya terpendam dalam diri mereka Untuk kebutuhan akan air bersih baik sekarang maupun yang akan datang. Itu terbukti dengan hasil dilapangan. Itu bisa diwujudkan dengan rasa semangat perjuangan dan kebersamaan menyatukan tekad, visi dan misi. Begitu kurang lebih bisa saya ugkapkan rasa semangat mereka. Medan yang licin dan terjal tapi bukan masalah besar buat mereka. Itu yang membuat saya kagum dengan partisipasi para relawan yang mempunyai tekad yang sama saling bahu-membahu.
Ulasan diatas adalah sebuah apresiasi semangat para sukarelawan yang meluangkan waktu dan tenaga untuk mewujudkan kebutuah akan air bersih.
Untuk sementara, Air ditampung dengan sebuah tangki yang ukuran kecil. Seperti yang ada digambar samping. Namun untuk sementara mampu memenuhi kebutuhan akan air bersih di masyarakat kami. Untuk kedepannya air sumber akan ditampung dengan Bak penampung sumber air yang letaknya di dekat lokasi sumber air. Diangkat dengan mesin yang dihidupkan dengan arus listik untuk menjalankan mesin dan mengangkat air ke Bak penampungan terakhir. Seperti yang terlihat di gambar atas pada gambar sumber air. Semua sumber air akan dialirkan dan ditampung ke dalam bak penampung sumber air.
Dalam pembuatan dan semua pemasangan dari pipa sampai bak yang telah dibuat itu adalah hasil dari gotong-royong. Para partisipan yang mau meluangkan baik waktu dan tenaga mereka dengan tujuan ingin mewujudkan kebutuhan mereka akan pentingnya arti air bersih untuk kehidupan. Berlandaskan pada tekad dan semangat yang dimiliki dan sumbangsih yang secara tulus ikhlas dengan saling bahu-membahu untuk memasang dan membangun bak penampung yang ada dilokasi. Kadang dalam pengerjaan dilokasi saling beda pendapat. Namun semua karena atas rasa saling memiliki. Yang tentunya demi kebaikan dan kelangsungan untuk yang akan datang.
Begitu banyak kendala yang mereka alami baik dalam pengerjaannya maupun biaya yang harus dikeluarkan. Dalam pengerjaannya, tentu kendala selalu ada. Apalagi lokasi yang diatas bebatuan cadas atau paras yang sangat keras dan licin membangun sebuah bak yang butuh pemikiran dan kerja cepat. Karena air akan terus mengalir akan mengikis secara perlahan yang bisa mengakibatkan robohnya bangunan yang telah dibuat. Dan hanya dipakai bahan batako untuk menjadi dinding Bak dicampur dengan pasir, semen halus tanpa beton bertulang dan besi. Tahap demi tahap mereka kerjakan dari menggali kerasnya batu paras yang menjadi dasar yang tingginya sekitar 2 meter. Sampai terbangunnya bak tersebut.
Dana terkumpul dari pemakaian air pada setiap konsumen yang di bayarkan tiap bulan sesuai dengan pemakaian masing-masing konsumen. Sampai dana terkumpul untuk membeli peralatan seperti mesin air, pipa dan pembangunan bak. Yang sebelumnya, diangkatnya air suangai (Tukad Pejeng) untuk sementara. Namun, masyarakat kurang puas dengan air sungai. Maka diputuskan untuk mengangkat sumber air yang ditemukan secara kebetulan pada sumber yang akan diangkat sekarang. Sebelumnya memang ada namun jaraknya sangat jauh dari lokasi. Di lokasi kami memang banyak sumber air yang ada. Namun letak dan lokasinya sangat jauh dari pemukiman masyarakat. Yang tentunya akan lebih banyak mengeluarkan dana untuk pemeliharaannya dalam jangka panjang. Begitu banyak tantangan yang dihadapi namaun karena tekad dan semangat mereka dapat mewujudkan kebutuhan mereka akan air bersih.
seperti yang ditampilkan pada gambar ini, dapat kita simak begitu sulit medan dan lokasi baik pembangunan bak maupun pemasangan instalasi pipa ke bak penampung sumber.
Apa komentar anda?
Apakah kami dibayar atau dikasi upah? tidak. Apakah nyawa kami di asuransi? tentu saja tidak. Apakah kami bekerja atas dasar keuntungan pribadi? heeeh… kami lakukan atas dasar “JENGAH” kalau istilah bali.
Itulah yang menjadi tekad kami dan memotivasi kami untuk mewujudkan keinginan kami akan air bersih. Kami lakukan secara gotong-royong dan atas dasar kemauan dan kepentingan bersama. walau tidak banyak yang merasa dan beranggapan Toh juga saya bayar air! Itu adalah sebagian orang yang kurang merasa memiliki dan hanya mengukur dengan hasil yang telah dicapai. Menurut kami hal yang terpenting adalah PROSES. Proses yang begitu lama dan panjang tentunya dengan kesabaran dan saling bahu-membahu untuk mewujudkannya. Astungkara, pada detik ini kami sekarang bisa menikmati hasilnya. Walau kami bayar untuk mengkonsumsi air, tapi itu untuk pembayaran biaya listrik ydipakai untuk menghidupkan mesin pompa air serta pemeliharaan kedepan dan untuk pembelian jika ada kerusakan. Selebihnya kalau ada sisa tentunya untuk KAS/Modal.
Mudah-mudahan untuk kedepannya, swakelola ini akan menjadi lebih besar dan dapat mencukupi kebutuhan masyarakat kami untuk seterusnya.
“Oleh masyarakat Kulub bagi masyarakat Kulub dan untuk masyarakat Kulub”



















