Purnama, Buda Keliwon Pahang


Pada hari ini, Rabu, 10 Mei 2017Purnama Jiyestha, Buda Keliwon Pahang Purnama Sasih Jiyestha Çaka 1939. 

Dilaksanakan karya pujawali di Pura Desa Pekraman Adat Kulub Ida Betara katur medal pada hari Selasa sehari sebelumnya dilaksanakan Upacara Pujawali ring sasih jiyestha. 

Dalam pelaksanaan Upacara Pukawali ini, pada pagi hari tadi telah dimulai yang berhubungan dengan Pujawali. Adapun rentetan Upacara yang dilaksanakan di Pura Dalem, Pura Catur Bhuawa dan mendak Dangsil. Dilanjutkan ke Pura Taman Suci di persembahkan tari Rejang dan Baris. 

Dalam Upakara kali ini, memiliki makna yang tersendiri karena Desa Pekraman Adat Kulub Lunga mendak Ida Betara ring Pura Penataran Desa Pekraman Saraseda Tampaksiring. Dan pengiring dari Desa Pekraman Saraseda maupun “Desa Pekraman Kulub ngiring Ida Betara (sesuwunan) ngiring melancaran, mececingak panjak Ida ring Kulub. Dumogi panjak Ida kepaica kerahayuan sareng sami tur panjak Ida Ring Desa Pekraman Adat Saraseda lan Desa Pekraman Adat Kulub presida Ngeraketang pasemeton riwekasan”

Sesudah Pajawali Purnama Kedasa selesai dilaksanakan di Desa Adat Kulub, Ida Betara ring Pura Penataran mewali ring Pura Penataran diiringi krama Desa Adat Kulub sampai tanggun carik.


Dan untuk kelanjutan upacara besok dilaksanakan pada jam 19:00 malam. 

Iklan

Ceremony Saraswati Day


What is Saraswati ceremony in Bali island

Knowledge is very important for Balinese. Every Saniscara, Umanis, Wuku Watugunung, they celebrate Saraswati Day, the knowledge day. It is based on the Pawukon (Balinese calendar) system and the Saniscara (seven day cycle).

The name Saraswati came from “Saras” meaning flow and “wati” meaning a women. So, Saraswati is symbol of knowledge, its flow (or growth) is like a river and knowledge is very interesting, like a beautiful women.

Saraswati is the Goddess of Knowledge, symbolized by a beautiful woman with four hands, riding on a white swan among water lilies to tell humanity that science is like a beautiful woman. Her hands hold a palm leaf; a lontar, (a Balinese traditional book which is the source of science or knowledge); a chain (genitri with 108 pieces) symbolising that knowledge is never ending and has an everlasting life cycle; and a musical instrument (guitar or wina) symbolising that science develops through the growth of culture. The swans symbolise prudence, so that one’s knowledge may distinguish between good and evil and the water lilies (Lotus) are symbols of holiness. The Lotus flower is the holiest for Balinese.

In the afternoon of Saraswati day we are not permitted to read or write the book because all the books are offered. In the evening, called Malam Sastra, people read books (especially religious books) in their houses or in the temple.

Pangredanan (the day before Saraswati)

This is the day of preparation. All the books and lontar are collected together, cleaned and dusted.

Saraswati Day

Saraswati day itself is celebrated by the Balinese people bringing offerings to their holy books and scrolls in their houses, while students celebrate it at school, usually in the morning, and the office-workers in their office. The philosophy of Saraswati day is that the most important thing for human life is knowledge.

Banyu Pinaruh

The day after Saraswati Day is Banyu Pinaruh day. “Banyu” means water and “Pinaruh” mean wisdom. In other words, we must have wisdom which always flows like water and which is useful for human kind. We pray for Dewi Saraswati (manifestation of God) to give us cleverness and wisdom. The people usually take a bath in the sea or a lake or river and drink traditional medicine which is made from many various leaves which is very good for our health. The philosophy of Banyu Pinaruh day is the second most important thing for human life is good health.

Soma Ribek

Two days after Saraswati Day, on Soma (or Monday), Pon, Wuku Sinta, is Soma Ribek day. “Soma” meaning Monday, and “Ribek” meaning full. On this day, Balinese bring offerings to the rice box. They thank God for food and beverage in their lives and pray to Dewi Sri (Goddess of prosperity, manifestation of God) to give prosperity. This celebration remind them to be selective when choosing food and not to over eat to improve their health. The philosophy of Soma Ribek day is the third most important thing for human life is food and drink.

Sabuh Mas

Three days after Saraswati Day, on Anggara (or Tuesday), Wage, Wuku Sinta, is Sabuh Mas day. “Sabuh” means belt, and “Mas” mean gold. On this day, Balinese bring offerings to the deposit box or the place where they keep their jewelry. They thank Mahadewa (manifestation of God) for cloth, money, gold, etc in our lives. This celebration remind them to be selective when spending money. The philosophy of Sabuh Mas day is the fourth most important thing for human life is cloth and gold, etc.

Pagerwesi

Four days after Saraswati Day, on Buda (or Wednesday), Kliwon, Wuku Sinta, is Pagerwesi day. “Pager” meaning fence and “Wesi” meaning iron. On this day, Balinese pray to Sang Hyang Pramesti Guru (manifestation of God). All Balinese have offerings to their Sanggah (temple in their home) and at all of their temples. This is the second biggest holiday after Galungan day for the Balinese. The philosophy of this celebration is that they must keep knowledge, health, food, cloth and gold high in their lives to keep the universe in balance.

Purnama Sasih Kapitu Uku Dukut


Pada bulan purnama sasih kapitu uku dukut merupakan jatuhnya hari Piodalan di Pura Maksan Desa Pakraman Kulub. Piodalan setiap tahun sekali yang jatuh pada sasih kapitu uku dukut.

Dalam pelaksanaan hari ini dilakukan pujawali dan persembahan tari rejang dan baris Sebelum melakukan persembahyangan bersama. Setelah upacara pelaksanaan pujawali telah selesai upacara puncak dilakukan persembahyangan bersama.


Dalam kepercayaan Hindu pada bulan purnama atau bulan penuh di percaya sebagai hari yang memiliki arti serta makna yang baik untuk melaksanakan persembahyangan. Begitu pula pada hari ini menghaturkan persembahan atas anugrah dan karunia yang telah dilimpahkan oleh Idha Hyang Widhi Wasa.
Suksma

NGAYAH…Yeh..To..ya..


Dalam kesempatan ini,  sebelumnya perlu kita garis bawahi artikel yang saya tulis adalah  tentang semangat “GOTONG ROYONG” dalam kontek “NGAYAH”. karena kami memiliki cerita yang berbeda dan perbedaan itu harus punya cerita. mengapa demikian…? Karena Itu adalah sifat yang tidak mementingkan kepentingan pribadi atau golongan di atas kepentingan orang banyak.  Dan patut kita beri apresiasi yang setingi-tingginya. Kenapa…? Tidak banyak orang yang memiliki sifat dan  rasa “SEMANGAT NGAYAH”  karena pengertian ngayah tidaklah mengharapkan imbalan atau upah yang harus  dibayarkan.

Ini adalah salah satu potrek kehidupan yang dilakoni oleh “SEKHAA YEH” BR. KULUB beserta jajarannya yang memiliki SEMANGAT NGAYAH yang patut di apresiasi yang setingi-tingginya. Dan itu telah dilakukan dari jaman sebelumnya dan telah RE-Generasi untuk memenuhi kebutuhan akan AIR di Br.Kulub khususnya. Dan tentu dari generasi ke generasi telah terjadi banyak perubahan yang signifikan dan telah dapat memenuhi kebutuhan akan AIR bahkan lebih dari cukup. Dan harapannya selain dapat memenuhi kebutuhan akan AIR juga bisa mengelola dari apa yang telah diperoleh. Karena pengelolaan itu akan terus berjalan secara berkelanjutan baik pengelolaan maintenance yang perlu dipersiapkan dengan matang. Karena maintenance adalah resiko atau kerusakan  yang terjadi  dan perlu biaya perawatan serta harus ditangani secepatnya.

Biaya perawatan dan penanganan kerusakan harus bisa diprediksi dan dipersiapkan sebelum resiko itu datang ibarat bencana alam yang tidak dapat diprediksi sebelumnya walaupun bisa dicatat jam dan waktunya namun setelah bencana itu terjadi. Begitupula apa yang telah terjadi pada mesin air  SEKAA YEH karena kerusakan bisa terjadi kapan saja dan kita harus bisa memaklumi karena kita berhubungan dengan mesin.

Dengan sigap dan siaga 1 prajuru SEKHAA YEH BR.KULUB bisa mengatasi kerusakan tersebut. Itu adalah prestasi yang membanggakan dan kita patut apresiasi yang setinggi-tingginya.

“ULIAN JENGAH SEMANGAT NGAYAH PRAJURU SEKHAA YEH BR.KULUB yang tak pernah PADAM”

mesin-1 mesin-3mesin-2

Yeh..To..ya.. dalam bahasa bali adalah Air. Tidak bisa kita bayangkan kalau di dalam kehidupan kita tidak ada Air. Karena Air merupakan kebutuhan pokok yang harus terpenuhi setiap saat dalam kehidupan kita.

 SUKSMA PING BANGET MAJENG PRAJURU SEKHAA YEH BR.KULUB DUMOGI RAHAYU SARENG SAMI

nunas ampura yening wenten artikel tiang nenten manut ring arsa semeton tityang sareng sami.

suksma

Rejang Tebog


rejang-tebog-2Rejang Tebog ini di percaya ajang mencari jodoh para rejang dan baris berderet sesuai barisan dan berputar sebanyak 3 kali sesuai arah sebelah kiri kekiri dan sebelah kanan kekanan.
Dan berhenti di hitungan ke 3 kali putaran dan berhadapan ke rejang yang notabene adalah para wanita yang diiringi dengan gamelan tetabuh sekha Gong. Dan riuh suryak dan ketawa pun pecah disaat mereka mengetahui pasangannya dan mungkin sebelumnya mereka telah menjalin asmara pertunangan.
rejang-tebog-1Lalu para baris menari dan para rejang memberi tebog yang telah dibawa sebelumnya. Kemudian para Baris menarikan Tebog tersebut.