Rejang Tebog


rejang-tebog-2Rejang Tebog ini di percaya ajang mencari jodoh para rejang dan baris berderet sesuai barisan dan berputar sebanyak 3 kali sesuai arah sebelah kiri kekiri dan sebelah kanan kekanan.
Dan berhenti di hitungan ke 3 kali putaran dan berhadapan ke rejang yang notabene adalah para wanita yang diiringi dengan gamelan tetabuh sekha Gong. Dan riuh suryak dan ketawa pun pecah disaat mereka mengetahui pasangannya dan mungkin sebelumnya mereka telah menjalin asmara pertunangan.
rejang-tebog-1Lalu para baris menari dan para rejang memberi tebog yang telah dibawa sebelumnya. Kemudian para Baris menarikan Tebog tersebut.

Dangsil Tungguh


 

“Dangsil” img_1105berasal dari kata Dang dan sila yang artinya Dang bermakna matang atau sempurna sedangkan Sila berarti sima atau prilaku kebiasaan, jadi Dangsil bermakna Suatu kegiatan atau tradisi untuk meraih kesempurnaan dalam hal ini adalah bagaimana upaya kita untuk mencapai kesempurnaan hidup dengan melaksanakan tradisi ritual yang terus menerus untuk meraih kesempurnaan hidup yaitu senantiasa bersyukur atas limpahan rahmat Ida S.Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa.

“Tungguh” berasal dari kata tangguh yang artinya sukar dikalahkan; kuat sekali; andal tabah dan tahan; kukuh; keuletan; kekukuhan. Yang dipakai sarana bambu sebagai penyangga dasar yang tinggi.

Yang dihiasi dengan janur dan jajan bali yang dikenal (jaje bekayu)  sebagai persembahan hasil bumi dan di pasang sepasang penjor dan 2 pasang tedung sesuai warna kuning,putih, hijau dan merah. yang terdiri dari 4 empat buah Dangsil Tungguh.

Yang merupakan simbul sebagai kebesaran Ida Hyang widhi Wasa yang mengatur kehidupan, kekayaan, dan kemakmuran serta keselamatan bagi umat-Nya.

Dudonan Karya Puja wali lan Padudusan Purnama Sasih Kelima Desa Pakraman Adat Kulub


  1. Ngemedalin pada Kamis, 10 Nopember 2016
    ngemedalinWraspati Wage Medangkungan. Merupakan awal dari upacara yang akan dilaksanakan pada sasih kelima di Desa  Pakraman Adat Kulub. Pada prosesi ngemedalin dilaksakan di Pura Ulun Suwi, Pura Desa/Balai Agung, Pura Puseh dan Pura Dalem.
  2. Ida Bethara Lunga melasti/mekiyis ring pesisi Lebih. Pada Jumat, 11 Nopember 2016, Sukra Keliwon Medangkungan Penanggal 12 Sasih Kelima Çaka 1938.
    Upacara Melasti/mekiyis di laksakan di Pantai Lebih-Gianyar. Upacara melasti merupakan upacara untuk menyucikan buwana agung dan buwana alit, serta pratima-pratima Pura yang akan disucikan. melastiUpacara melasti dilaksanakan di laut, waduk atau sumber mata air. Selain melakukan persembahyangan, upacara Melasti juga adalah pembersihan dan penyucian benda sakral milik pura (pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya).
    Pelaksaaan upacara Melasti dilengkapi dengan berbagai sesajian sebagai simbol Trimurti, 3 dewa dalam Agama Hindu, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa, serta Jumpana. Setelah upacara Melasti usai dilakukan, pratima dan segala perlengkapannya diusung menuju Pura Tirta Empul. Dari Tirta Empul  setelah upacara selesai Ida Bethara katur Memarga atau melancaran, memasar dan Melingga ring Pura Ulun Suwi.
  3. Ageng (puncak acara) ring pura ulun suwi.
    Pada Saniscara Umanis Medangkungan. Pada hari ini dilaksakan puncak acara (Ageng) di Pura Ulun Suwi Desa Adat Pakraman Kulub.
  4. Ida Betara Katur Lunga ring Pura desa / Balai Agung pada Redite Paing Matal. Pada hari ini Ida Bethara katur Lunga melingga ring Pura Desa/Balai Agung.
  5. Ageng (puncak acara) ring pura bale agung pada Purnama Kelima, Soma Pon Matal. Pada hari ini merupakan puncak acara di Pura Desa/Balai Agung Desa Adat Kulub. Pada puncak acara ini, ada chiri khas disetiap pelaksanaannya. Selain Katur Puja Wali, wewalian Baris tumbak, Rejang juga dilaksanakan “Rejang Tebog“. rejang-tebog-1Rejang Tebog ini di percara ajang mencari jodoh para rejang dan baris berderet sesuai barisan dan berputar sebanyak 3 kali sesuai arah sebelah kiri kekiri dan sebelah kanan kekanan. Dan berhenti di hitungan ke 3 kali putaran dan berhadapan ke rejang yang notabene adalah para wanita yang diiringi dengan gamelan tetabuh sekha Gong. Dan riuh suryak dan ketawa pun pecah disaat mereka mengetahui pasangannya dan mungkin sebelumnya mereka telah menjalin asmara pertunangan. Lalu para baris menari dan para rejang memberi tebog yang telah dibawa sebelumnya. Kemudian para Baris menarikan Tebog tersebut.
  6. Tuju Lumbung pada Anggara Wage Matal.

    “TUJU LUMBUNG” dalam hal ini saya sebagai pencerita atau mengulas lebih jauh saya belum tahu apa makna dan artinya. Saya hanya bisa menceritakan apa yang pernah saya rasakan dalam ikut sebagai pengiring.

    Sebelum saya mengulas dalam pelaksanaan upacara ini, ijinkan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan dalam menyajikan segai tulisan dan apabila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca.

    img_1105Yang menjadi ciri khas dari upacara ini adalah “DangsilTungguh” yang merupakan simbul sebagai kebesaran Ida Hyang widhi Wasa yang mengatur kehidupan, kekayaan, dan kemakmuran serta keselamatan bagi umat-Nya.

    Upacara ini telah dilaksanakan sehari sebelum dilaksanakan upacara telah dilakukan prosesi oleh prajuru/ Jero Guru sebagai pemimpin upacara. Upacara ini ditandai disetiap “Tengai tepet” atau siang hari (jam 12:00 siang) dan sandikala (7:00 petang) dilakukan upacara mengundang segala mahluk dan ciptaan tuhan yang bersemayam (due) di Pura Dalem dan Dalem Pingit.

    Bagi laki-laki dewasa diwajibkan ngiring dalam pelaksanaan upacara ini. Namun, tidak ada unsur paksaan dan atas inisiatif diri sendiri dan merupakan suatu kebanggaan apabila dapat ngiring dalam upacara Tuju Lumbung bagi para laki-laki. Untuk anak-anak dan kaum wanita diwajibkan berada di bawah “Dangsil Tungguh” yang terdiri dari 4 buah atau dilokasi yang tidak dilewati bagi pengiring.

    Dalam pelaksanan “TUJU LUMBUNG” yang merupakan renteran upacara setelah Purnama atau puncak upacara yang dilaksanakan setiap tahun pada Purnama sasih Kelima. Dilaksakan dengan puncak acara pada pukul 12:00 di Pura Desa/Balai Agung Desa Pakraman Kulub. Semua lampu atau penerangan dimatikan/dipadamkan dalam keadaan gelap, namun sinar rembulan yang lembut selalu menerangi dengan kesejukannya. Hanya di sinari terangnya rembulan setelah hari purnama dalam pelaksanaannya, akan tambah hening dan tak bersuara dan walaupun ada, itu sebatas bisik-bisik agar tidak mengganggu keheningan yang khusuk. Setelah puncak acara tiba dan waktu menunjukan kurang lebih pukul 12:00 semua umat yang ngiring melakukan persembahyangan atas komando. Bagi umat yang menjadi Adat memakai sarana Kewangen dan di kumpulkan ke dalam wakul dan dibawa oleh jero guru. Upacara Tuju Lumbung dimulai dengan isyarat bunyi genta yang tinggi dan keras di dalam keheningan malam dan diiringan secara serentak sura GONG dengan nada cepat dan riuh “mesuryak” dari pengiring serta mengelilingi Pura Desa sebanyak 3 kali. Suasana keheningan malam tiba-tiba berubah riuh dab gaduh suara “suryak” para pengiring, Gentha, Gong, Kulkul secara bersamaan sesuai irama. Dan suara tangis anak-anak juga pecah saat itu. Mungkin karena terkejut dari heningnya malam dan terang rembulan tiba-tiba riuh dan hentakan kaki yang berlarian mengelilingi Pura. Setelah mengelilingi sebanyak 3 kali upacara TUJU lUMBUNG sudah selesai. Dan semua lampu penerangan di hidupkan kembali.

  7. Ida Bethara Katur Mesineb Rabu, 16 Nopember 2016 Buda Keliwon Matal, Kajeng Keliwon. Pada hari ini sebelkum dilakukan upacara mesineb Ida Bethara Katur mesineb_carikmelancaran ring carik. mesinebYaitu mengelilingi pematang sawah yang ada di Desa Pakraman Adat Kulub yang lagi mengering karena krisis air. Namun, semua umat dan masyarakat berdoa baik bumi sebagai buana agung dan segala makluk hidup  sebagai buana alit  yang ada di Desa Pakraman Adat Kulub, selalu dilimpahkan kesehatan dan dikaruniai rejeki dimanapun umatnya berada. Baik dari hasil bumi dan masyarakatnya yang merantau  untuk mengais rejeki.

Apa yang telah saya uraikan diatas merupakan pelaksanaan dudonan karya puja wali lan pedudusan purnama kelima di desa pekraman adat kulub, apabila ada kesalahan dalam penyampaian dan kekurangan dalam penyajian saya mohon maaf dan Suksma atur tityang.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Penggalian Dana (Bazzar)


“Om Swastyastu”

Kami Sekha Teruna-teruni Kawula Wisuda Banjar Kulub, berkehendak melaksanakan penggalian dana bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas dan olahraga serta kegiatan-kegiatan yang berhubungan spiritual yang telah berjalan sebelumnya. Penggalian dana tersebut, kami adakan berupa Bazzar yang bekerjasama dengan rumah makan ayam goreng Prambanan. Yang diselenggarakan pada :

Tanggal : 25 – 27 November 2016
Pukul : 09.00 s/d 21.00 Wita
Tempat : Rumah Makan Ayam Goreng Prambanan

Untuk tempat dan lokasi Rumah Makan tersebut dapat kami informasikan sebagai berikut:

1. JL. Cok Agung Tresna No.67 Renon, Denpasar Telp. 0361-242677
2. JL. Raya Kapal No.77 Lukluk, Mengwi, Badung Telp. 0851 0098 5692
3. JL. Ahmad Yani Utara N0.213 Denpasar Telp. 0851 0714 5522
4. JL. Peliatan Ubud (perempatan patung arjuna) Telp. 0851 0061 8999
5. JL. Ciung Wanara N0.15 Giamyar Telp. 0851 0116 7979
6. JL. Raya Batubulan N0.11B Telp. 0361 298225
7. JL. Marlboro (Teuku Umar Barat) No.5555, Denpasar Telp. 0851 0452 0009

Untuk Paket Menu yang bisa di tukarkan dapat kami informasikan sebagai berikut:

1. PAKET A
* Ayam Goreng
* lalapan
* Nasi Putih
* Sambal
* Air Mineral

2. PAKET B
* Ikan Goreng
*Lalapan
*Nasi Putih
*Sambal
*Air Mineral
(Stack Terbatas)

Untuk Harga @Rp. 50.000

Demikian pemberitahuan yang kami dapat sampaikan, dan atas partisipasi dan sumbangsih yang tulus ikhlas kami haturkan terima kasih.

Om Santih, Santih, Santih Om

 
Mengetahui,

Kelihan Dinas Br.Kulub

(I wayan Karja)

Ketua Panitia

(I Nyoman Raka Ariyawan)

Ketua ST. Kawula Wisuda
Br. Kulub

(I Kadek Juniantara)

 

Hari Raya Galungan dan Kuningan


  Hari Raya Umat Hindu yang jatuh setiap enam bulan kalender Bali tepatnya pada buda keliwon uku dungulan. Pada hari raya galungan dihaturkan sesajen dan banten sebagai perwujudan rasa syukur kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa. Yang disimbolkan sebagai kemenangan Dharma melawan aDharma.