Purnama Sasih Kapitu Uku Dukut


Pada bulan purnama sasih kapitu uku dukut merupakan jatuhnya hari Piodalan di Pura Maksan Desa Pakraman Kulub. Piodalan setiap tahun sekali yang jatuh pada sasih kapitu uku dukut.

Dalam pelaksanaan hari ini dilakukan pujawali dan persembahan tari rejang dan baris Sebelum melakukan persembahyangan bersama. Setelah upacara pelaksanaan pujawali telah selesai upacara puncak dilakukan persembahyangan bersama.


Dalam kepercayaan Hindu pada bulan purnama atau bulan penuh di percaya sebagai hari yang memiliki arti serta makna yang baik untuk melaksanakan persembahyangan. Begitu pula pada hari ini menghaturkan persembahan atas anugrah dan karunia yang telah dilimpahkan oleh Idha Hyang Widhi Wasa.
Suksma

NGAYAH…Yeh..To..ya..


Dalam kesempatan ini,  sebelumnya perlu kita garis bawahi artikel yang saya tulis adalah  tentang semangat “GOTONG ROYONG” dalam kontek “NGAYAH”. karena kami memiliki cerita yang berbeda dan perbedaan itu harus punya cerita. mengapa demikian…? Karena Itu adalah sifat yang tidak mementingkan kepentingan pribadi atau golongan di atas kepentingan orang banyak.  Dan patut kita beri apresiasi yang setingi-tingginya. Kenapa…? Tidak banyak orang yang memiliki sifat dan  rasa “SEMANGAT NGAYAH”  karena pengertian ngayah tidaklah mengharapkan imbalan atau upah yang harus  dibayarkan.

Ini adalah salah satu potrek kehidupan yang dilakoni oleh “SEKHAA YEH” BR. KULUB beserta jajarannya yang memiliki SEMANGAT NGAYAH yang patut di apresiasi yang setingi-tingginya. Dan itu telah dilakukan dari jaman sebelumnya dan telah RE-Generasi untuk memenuhi kebutuhan akan AIR di Br.Kulub khususnya. Dan tentu dari generasi ke generasi telah terjadi banyak perubahan yang signifikan dan telah dapat memenuhi kebutuhan akan AIR bahkan lebih dari cukup. Dan harapannya selain dapat memenuhi kebutuhan akan AIR juga bisa mengelola dari apa yang telah diperoleh. Karena pengelolaan itu akan terus berjalan secara berkelanjutan baik pengelolaan maintenance yang perlu dipersiapkan dengan matang. Karena maintenance adalah resiko atau kerusakan  yang terjadi  dan perlu biaya perawatan serta harus ditangani secepatnya.

Biaya perawatan dan penanganan kerusakan harus bisa diprediksi dan dipersiapkan sebelum resiko itu datang ibarat bencana alam yang tidak dapat diprediksi sebelumnya walaupun bisa dicatat jam dan waktunya namun setelah bencana itu terjadi. Begitupula apa yang telah terjadi pada mesin air  SEKAA YEH karena kerusakan bisa terjadi kapan saja dan kita harus bisa memaklumi karena kita berhubungan dengan mesin.

Dengan sigap dan siaga 1 prajuru SEKHAA YEH BR.KULUB bisa mengatasi kerusakan tersebut. Itu adalah prestasi yang membanggakan dan kita patut apresiasi yang setinggi-tingginya.

“ULIAN JENGAH SEMANGAT NGAYAH PRAJURU SEKHAA YEH BR.KULUB yang tak pernah PADAM”

mesin-1 mesin-3mesin-2

Yeh..To..ya.. dalam bahasa bali adalah Air. Tidak bisa kita bayangkan kalau di dalam kehidupan kita tidak ada Air. Karena Air merupakan kebutuhan pokok yang harus terpenuhi setiap saat dalam kehidupan kita.

 SUKSMA PING BANGET MAJENG PRAJURU SEKHAA YEH BR.KULUB DUMOGI RAHAYU SARENG SAMI

nunas ampura yening wenten artikel tiang nenten manut ring arsa semeton tityang sareng sami.

suksma

Rejang Tebog


rejang-tebog-2Rejang Tebog ini di percaya ajang mencari jodoh para rejang dan baris berderet sesuai barisan dan berputar sebanyak 3 kali sesuai arah sebelah kiri kekiri dan sebelah kanan kekanan.
Dan berhenti di hitungan ke 3 kali putaran dan berhadapan ke rejang yang notabene adalah para wanita yang diiringi dengan gamelan tetabuh sekha Gong. Dan riuh suryak dan ketawa pun pecah disaat mereka mengetahui pasangannya dan mungkin sebelumnya mereka telah menjalin asmara pertunangan.
rejang-tebog-1Lalu para baris menari dan para rejang memberi tebog yang telah dibawa sebelumnya. Kemudian para Baris menarikan Tebog tersebut.

Dangsil Tungguh


 

“Dangsil” img_1105berasal dari kata Dang dan sila yang artinya Dang bermakna matang atau sempurna sedangkan Sila berarti sima atau prilaku kebiasaan, jadi Dangsil bermakna Suatu kegiatan atau tradisi untuk meraih kesempurnaan dalam hal ini adalah bagaimana upaya kita untuk mencapai kesempurnaan hidup dengan melaksanakan tradisi ritual yang terus menerus untuk meraih kesempurnaan hidup yaitu senantiasa bersyukur atas limpahan rahmat Ida S.Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa.

“Tungguh” berasal dari kata tangguh yang artinya sukar dikalahkan; kuat sekali; andal tabah dan tahan; kukuh; keuletan; kekukuhan. Yang dipakai sarana bambu sebagai penyangga dasar yang tinggi.

Yang dihiasi dengan janur dan jajan bali yang dikenal (jaje bekayu)  sebagai persembahan hasil bumi dan di pasang sepasang penjor dan 2 pasang tedung sesuai warna kuning,putih, hijau dan merah. yang terdiri dari 4 empat buah Dangsil Tungguh.

Yang merupakan simbul sebagai kebesaran Ida Hyang widhi Wasa yang mengatur kehidupan, kekayaan, dan kemakmuran serta keselamatan bagi umat-Nya.

Dudonan Karya Puja wali lan Padudusan Purnama Sasih Kelima Desa Pakraman Adat Kulub


  1. Ngemedalin pada Kamis, 10 Nopember 2016
    ngemedalinWraspati Wage Medangkungan. Merupakan awal dari upacara yang akan dilaksanakan pada sasih kelima di Desa  Pakraman Adat Kulub. Pada prosesi ngemedalin dilaksakan di Pura Ulun Suwi, Pura Desa/Balai Agung, Pura Puseh dan Pura Dalem.
  2. Ida Bethara Lunga melasti/mekiyis ring pesisi Lebih. Pada Jumat, 11 Nopember 2016, Sukra Keliwon Medangkungan Penanggal 12 Sasih Kelima Çaka 1938.
    Upacara Melasti/mekiyis di laksakan di Pantai Lebih-Gianyar. Upacara melasti merupakan upacara untuk menyucikan buwana agung dan buwana alit, serta pratima-pratima Pura yang akan disucikan. melastiUpacara melasti dilaksanakan di laut, waduk atau sumber mata air. Selain melakukan persembahyangan, upacara Melasti juga adalah pembersihan dan penyucian benda sakral milik pura (pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya).
    Pelaksaaan upacara Melasti dilengkapi dengan berbagai sesajian sebagai simbol Trimurti, 3 dewa dalam Agama Hindu, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa, serta Jumpana. Setelah upacara Melasti usai dilakukan, pratima dan segala perlengkapannya diusung menuju Pura Tirta Empul. Dari Tirta Empul  setelah upacara selesai Ida Bethara katur Memarga atau melancaran, memasar dan Melingga ring Pura Ulun Suwi.
  3. Ageng (puncak acara) ring pura ulun suwi.
    Pada Saniscara Umanis Medangkungan. Pada hari ini dilaksakan puncak acara (Ageng) di Pura Ulun Suwi Desa Adat Pakraman Kulub.
  4. Ida Betara Katur Lunga ring Pura desa / Balai Agung pada Redite Paing Matal. Pada hari ini Ida Bethara katur Lunga melingga ring Pura Desa/Balai Agung.
  5. Ageng (puncak acara) ring pura bale agung pada Purnama Kelima, Soma Pon Matal. Pada hari ini merupakan puncak acara di Pura Desa/Balai Agung Desa Adat Kulub. Pada puncak acara ini, ada chiri khas disetiap pelaksanaannya. Selain Katur Puja Wali, wewalian Baris tumbak, Rejang juga dilaksanakan “Rejang Tebog“. rejang-tebog-1Rejang Tebog ini di percara ajang mencari jodoh para rejang dan baris berderet sesuai barisan dan berputar sebanyak 3 kali sesuai arah sebelah kiri kekiri dan sebelah kanan kekanan. Dan berhenti di hitungan ke 3 kali putaran dan berhadapan ke rejang yang notabene adalah para wanita yang diiringi dengan gamelan tetabuh sekha Gong. Dan riuh suryak dan ketawa pun pecah disaat mereka mengetahui pasangannya dan mungkin sebelumnya mereka telah menjalin asmara pertunangan. Lalu para baris menari dan para rejang memberi tebog yang telah dibawa sebelumnya. Kemudian para Baris menarikan Tebog tersebut.
  6. Tuju Lumbung pada Anggara Wage Matal.

    “TUJU LUMBUNG” dalam hal ini saya sebagai pencerita atau mengulas lebih jauh saya belum tahu apa makna dan artinya. Saya hanya bisa menceritakan apa yang pernah saya rasakan dalam ikut sebagai pengiring.

    Sebelum saya mengulas dalam pelaksanaan upacara ini, ijinkan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan dalam menyajikan segai tulisan dan apabila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca.

    img_1105Yang menjadi ciri khas dari upacara ini adalah “DangsilTungguh” yang merupakan simbul sebagai kebesaran Ida Hyang widhi Wasa yang mengatur kehidupan, kekayaan, dan kemakmuran serta keselamatan bagi umat-Nya.

    Upacara ini telah dilaksanakan sehari sebelum dilaksanakan upacara telah dilakukan prosesi oleh prajuru/ Jero Guru sebagai pemimpin upacara. Upacara ini ditandai disetiap “Tengai tepet” atau siang hari (jam 12:00 siang) dan sandikala (7:00 petang) dilakukan upacara mengundang segala mahluk dan ciptaan tuhan yang bersemayam (due) di Pura Dalem dan Dalem Pingit.

    Bagi laki-laki dewasa diwajibkan ngiring dalam pelaksanaan upacara ini. Namun, tidak ada unsur paksaan dan atas inisiatif diri sendiri dan merupakan suatu kebanggaan apabila dapat ngiring dalam upacara Tuju Lumbung bagi para laki-laki. Untuk anak-anak dan kaum wanita diwajibkan berada di bawah “Dangsil Tungguh” yang terdiri dari 4 buah atau dilokasi yang tidak dilewati bagi pengiring.

    Dalam pelaksanan “TUJU LUMBUNG” yang merupakan renteran upacara setelah Purnama atau puncak upacara yang dilaksanakan setiap tahun pada Purnama sasih Kelima. Dilaksakan dengan puncak acara pada pukul 12:00 di Pura Desa/Balai Agung Desa Pakraman Kulub. Semua lampu atau penerangan dimatikan/dipadamkan dalam keadaan gelap, namun sinar rembulan yang lembut selalu menerangi dengan kesejukannya. Hanya di sinari terangnya rembulan setelah hari purnama dalam pelaksanaannya, akan tambah hening dan tak bersuara dan walaupun ada, itu sebatas bisik-bisik agar tidak mengganggu keheningan yang khusuk. Setelah puncak acara tiba dan waktu menunjukan kurang lebih pukul 12:00 semua umat yang ngiring melakukan persembahyangan atas komando. Bagi umat yang menjadi Adat memakai sarana Kewangen dan di kumpulkan ke dalam wakul dan dibawa oleh jero guru. Upacara Tuju Lumbung dimulai dengan isyarat bunyi genta yang tinggi dan keras di dalam keheningan malam dan diiringan secara serentak sura GONG dengan nada cepat dan riuh “mesuryak” dari pengiring serta mengelilingi Pura Desa sebanyak 3 kali. Suasana keheningan malam tiba-tiba berubah riuh dab gaduh suara “suryak” para pengiring, Gentha, Gong, Kulkul secara bersamaan sesuai irama. Dan suara tangis anak-anak juga pecah saat itu. Mungkin karena terkejut dari heningnya malam dan terang rembulan tiba-tiba riuh dan hentakan kaki yang berlarian mengelilingi Pura. Setelah mengelilingi sebanyak 3 kali upacara TUJU lUMBUNG sudah selesai. Dan semua lampu penerangan di hidupkan kembali.

  7. Ida Bethara Katur Mesineb Rabu, 16 Nopember 2016 Buda Keliwon Matal, Kajeng Keliwon. Pada hari ini sebelkum dilakukan upacara mesineb Ida Bethara Katur mesineb_carikmelancaran ring carik. mesinebYaitu mengelilingi pematang sawah yang ada di Desa Pakraman Adat Kulub yang lagi mengering karena krisis air. Namun, semua umat dan masyarakat berdoa baik bumi sebagai buana agung dan segala makluk hidup  sebagai buana alit  yang ada di Desa Pakraman Adat Kulub, selalu dilimpahkan kesehatan dan dikaruniai rejeki dimanapun umatnya berada. Baik dari hasil bumi dan masyarakatnya yang merantau  untuk mengais rejeki.

Apa yang telah saya uraikan diatas merupakan pelaksanaan dudonan karya puja wali lan pedudusan purnama kelima di desa pekraman adat kulub, apabila ada kesalahan dalam penyampaian dan kekurangan dalam penyajian saya mohon maaf dan Suksma atur tityang.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.