Rasa Syukur

“Biyukukung” Rasa syukur kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa,tetap dilaksanakan bagi umat hindu yang ada di bali. Walau kenyataannya hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan. Seperti gambar disamping telah membuktikan bagaimana rasa syukur itu tetap dipanjatkan dan dihaturkan kepada hyang maha kuasa. sanggah dan penjor biukukungWalaupun hasil dari tanduran/ padi yang ditanam tidak menghasilkan seperti yang diharapkan. Karena bibit padi yang ditanam kekurangan air untuk irigasi pertanian. Yang mengakibatkan padi tidak dapat menghasilkan seperti yang diharapkan. Semuanya kosong tanpa isi, padi mereka jadi berubah warna merah karena kurangnya air. Begitu sulit untuk mengairi sawah-sawah mereka. Seperti yang terjadi didaerah kami di Br. Adat Kulub. Sawah-sawah yang ada jadi kering karena kekurangan air irigasi. Dalam hal ini, pihak subak Kulub tidak bisa berbuat banyak karena memang pasokan air yang masuk ke sawah-sawah pertanian begitu minim sekali. Kecuali di musim penghujan mereka bisa menanam padi dengan pasokan air yang cukup dari hujan.Pasokan air tidak seperti dulu lagi waktu kami masih anak-anak. Apa mungkin disebabkan karena terjadinya longsor yang mengakibatkan tanggul-tanggul pengairan jadi rusak dan airpun terbuang karena keluar dari sungai pengairan irigasi sawah. Kejadian ini sudah sering dialami bagi subak yang ada di Banjar Adat kami. Namun, saat ini juga belum ada penyelesaian yang bisa berkesinambungan dalam pengairan. Padahal sistem perbaikan tanggul-tanggul secara gotong royong (Subak Kempelan) sering dilakukan apabila terjadi tanggul air yang rusak atau longsor / bocor yang biasanya terjadi pada musim penghujan.

Apakah Makna Dari Biukukung.

Pengertian Mebiukukung sering kali disebut mabekukung atau biukukung. Tradisi agraris yang satu ini dilaksanakan untuk petani yang bercocok tanam padi di sawah. Upacara ini dilaksanakan ketika tanaman padi hendak hamil, atau sedang hamil muda.

Upacara mabiukukung dilakukan di sawah-sawah, atau tepatnya pada cakanganpintu air atau lebih mirip disebut lubang air yang menjadi tempat (hulu) masuknya air di tiap petak-petak sawah garapannya. Pada upacara biukukung, pemuput-nya tak mesti menggunakan pemangku, melainkan cukup pemilik atau penggarap sawah tersebut juga bisa.

biukukungUniknya ada pada bebantenan dan pelaksanaannya. Seolah-olah melembaga dan baku, banten biukukung terdiri atas blayag, ketipat gantusan, rujak manis, ampo (camilan dari tanah liat yang biasanya jadi bahan gerabah dibakar), kungkang (orang-orangan berjenis kelamin lanang-istri yang terbuat dari busungdaun kelapa muda), sampaian kakul, umbi-umbian seperti ubi jalar (jamak), ubi jawa (ketela pohon), keladi. Ada juga umbi-umbian yang digoreng yang ditaruh pada tadah sukla. Tak lupa nyah-nyah geringsing, baas kuning, kacang-kacangan. Sebagai pelengkap juga ada pisang goreng, godoh, dan jajanan lainnya.

Banten pengoak ditaruh pada papah enau (tua) yang dibiarkan daun di bagian atas bergerai, lalu dihias dengan ambu. Banten pengoak yang dibuat satu tamas ditaruh menggelantung di sana. Ada pula acara megoak-goakanbila menyertakan anak-anak. Anak-anak ini lalu menjadi goak (burung gagak hitam). Anak-anak akan berteriak goaaaaak, goaaaaaak, goaaaaakbersahut-sahutan.

Setelah upacara selesai, banten pengoak di-surud dan diberikan kepada anak-anak yang tadi menjadi goak. Bila tak menyertakan anak-anak, banten pengoak dibiarkan menggelantung, karena yang ngetisang tak boleh nyurud.

Usai upacara, banten-banten lain di-surud, tetapi khusus banten pengoakbila tak ada anak-anak, dibiarkan saja pada tempatnya. Namun, ada beberapa banten yang sengaja dihanyutkan di cakangan, seperti kungkang, nyah-nyah geringsing, baas kuning dan sebagainya. Sedangkan ubi jamak, ubi jawa dan ubi keladi ditanam di sawah. Tujuan dihanyutkan pada cakangan agar semua areal sawah mendapatkan aura dari upacara tersebut, sebagaimana layaknya air yang memenuhi areal persawahan tersebut yang masuk melalui cakangan itu. ”Cakangan kan sebagai hulu pada sawah tersebut. Air yang memenuhi sawah masuk lewat cakangan. Di sinilah upacara pabiukukungan dilaksanakan,” kata Mangku I Ketut Sukarena.

dikutip dari : http://pasektangkas.blogspot.com/2008/07/biukukung.html

Biyukukung, Pengertian Mebiukukung sering kali disebut mabekukung atau biukukung. Tradisi agraris yang satu ini dilaksanakan untuk petani yang bercocok tanam padi di sawah. Upacara ini dilaksanakan ketika tanaman padi hendak hamil, atau sedang hamil muda.

Upacara mabiukukung dilakukan di sawah-sawah, atau tepatnya pada cakanganpintu air atau lebih mirip disebut lubang air yang menjadi tempat (hulu) masuknya air di tiap petak-petak sawah garapannya. Pada upacara biukukung, pemuput-nya tak mesti menggunakan pemangku, melainkan cukup pemilik atau penggarap sawah tersebut juga bisa.

Uniknya ada pada bebantenan dan pelaksanaannya. Seolah-olah melembaga dan baku, banten biukukung terdiri atas blayag, ketipat gantusan, rujak manis, ampo (camilan dari tanah liat yang biasanya jadi bahan gerabah dibakar), kungkang (orang-orangan berjenis kelamin lanang-istri yang terbuat dari busungdaun kelapa muda), sampaian kakul, umbi-umbian seperti ubi jalar (jamak), ubi jawa (ketela pohon), keladi. Ada juga umbi-umbian yang digoreng yang ditaruh pada tadah sukla. Tak lupa nyah-nyah geringsing, baas kuning, kacang-kacangan. Sebagai pelengkap juga ada pisang goreng, godoh, dan jajanan lainnya.

Banten pengoak ditaruh pada papah enau (tua) yang dibiarkan daun di bagian atas bergerai, lalu dihias dengan ambu. Banten pengoak yang dibuat satu tamas ditaruh menggelantung di sana. Ada pula acara megoak-goakanbila menyertakan anak-anak. Anak-anak ini lalu menjadi goak (burung gagak hitam). Anak-anak akan berteriak goaaaaak, goaaaaaak, goaaaaakbersahut-sahutan.

Setelah upacara selesai, banten pengoak di-surud dan diberikan kepada anak-anak yang tadi menjadi goak. Bila tak menyertakan anak-anak, banten pengoak dibiarkan menggelantung, karena yang ngetisang tak boleh nyurud.

Usai upacara, banten-banten lain di-surud, tetapi khusus banten pengoakbila tak ada anak-anak, dibiarkan saja pada tempatnya. Namun, ada beberapa banten yang sengaja dihanyutkan di cakangan, seperti kungkang, nyah-nyah geringsing, baas kuning dan sebagainya. Sedangkan ubi jamak, ubi jawa dan ubi keladi ditanam di sawah. Tujuan dihanyutkan pada cakangan agar semua areal sawah mendapatkan aura dari upacara tersebut, sebagaimana layaknya air yang memenuhi areal persawahan tersebut yang masuk melalui cakangan itu. ”Cakangan kan sebagai hulu pada sawah tersebut. Air yang memenuhi sawah masuk lewat cakangan. Di sinilah upacara pabiukukungan dilaksanakan,” kata Mangku I Ketut Sukarena.