Lakshmi Gayatri for Spiritual Wealth and Luxuries


 

Om Mahalakshmyai cha vidmahe
Vishnu patnyai cha dhimahi
Tanno Lakshmihi prachodayat
Artinya:
Om. Mari kita bermeditasi Kepada Dewi Sri Lakshmi,
permaisuri Sri Maha Wisnu Mei
yang berkilau Maha Lakshmi Devi inspirasi.
Iklan

Perayaan Budha Wage Kelawu


Dewi LaksmiBuda Cemeng Kelawu atau Buda Wage Kelawu yang jatuh setiap hari Rabu pada wuku Kelawu di penanggalan Bali, merupakan hari perayaan yang cukup dianggap penting oleh umat Hindu khususnya di Bali.

Pada hari ini, umat Hindu meluangkan waktu untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa melalui manifestasinya sebagai Dewi Laksmi (dikenal juga sebagai Sanghyang Sedana/Rambut Sedana) yang telah memberikan kekayaan/rejeki/kemakmuran kepada manusia untuk bertahan hidup. Dalam perkembangannya, hari perayaan ini lebih dikhususkan kepada bentuk/perwujudan uang sebagai simbol dari kekayaan/rejeki/kemakmuran itu sendiri.

Dalam tradisi, perayaan Budha Wage Kelawu (Cemeng), sering diartikan sebagai perayaan kepada Betara Rambut Sedana; perayaan kepada ‘Dia’ yang mememiliki kekayaan yang sesungguhnya.
Karena itu, pada hari Rabu, Wage, Kelawu, bagi yang meyakininya, akan menghindari melakukan transaksi jual beli; sebab pada hari itu, “Dia” yang memiliki kekayaan tengah melakukan yoganya. Maka tradisi ‘ekonomis’ yang menarik; sebab dalam sekali waktu ‘uang’ tidak dipergunakan. Walau dalam sehari, alangkah menariknya jika seseorang dibebaskan dari ‘ketakutan’ akan ketiadaan uang. Bayangkan andai serentak terjadi dalam sehari, semua orang tidak melakukan transaksi jual beli (?) Bagaimanakah sesungguhnya memaknai posisi uang dalam kehidupan manusia saat seperti itu (?) Kekacauankah akan terjadi atau akan hadir makna baru dalam menilai uang dalam kehidupan masa kini; yang memang menilai keberhasilan seseorang dari kekayaan, jabatan; dari busana luarnya; tidak peduli asal muasal kekayaan itu; didapatkan dengan jalan suci ataukah menipu? Uang telah terbukti ‘ menipu’ kejujuran hati, ‘penguasa’ dan “tuhan” yang sesungguhnya di masa kini.

Dalam pengertian yang luas, perayaan Budha Wage Kelawu; mengingatkan kembali akan keberadaan artha dalam konteks Catur Purusa Artha; ( Artha, Kama, Dharma dan Moksa). Baca lebih lanjut

Tumpek Wayang


ImageSaniscara Kliwon wuku Wayang atau yang sering disebut dengan Tumpek Wayang adalah salah satu hari raya suci umat Hindu yang dirayakan setiap 6 bulan sekali. Menurut sistem perhitungan wuku, satu siklus lamanya 210 hari, karena tiap wuku lamanya 7 hari (Saptawara) dikalikan banyaknya wuku yang berjumlah 30 jenis. Satu bulan wuku lamanya 35 hari, dan setiap akhir bulan wuku itu disebut tumpek. Sehingga ada 6 jenis tumpek yaitu Tumpek Landep, Tumpek Pengarah, Tumpek Krulut, Tumpek Kuningan, Tumpek Kandang, dan Tumpek Wayang. Perhitungan Saptawara kemudian dikombinasikan pula dengan Pancawara (lima hari) dan setiap tumpek adalah jatuh pada Kliwon.
Baca lebih lanjut

Tumpek Wayang (Sapuh Leger)


ImageMenurut Wayan Kawen, Wayang Sapu Leger adalah salah satu wayang dari tiga macam wayang yang disakralkan di Bali. Tiga wayang dimaksud adalah Wayang Sapu Leger, Wayang Suddhamala dan Wayang Lemah. Ketiga wayang itu mempunyai persamaan fungsi yaitu : “ngruat”. Diantaranya wayang Sapu-Leger lah yang paling angker dan paling berat, baik bagi Ki Dalang maupun bagi yang berkepentingan, sedang fungsinya khusus untuk ngruwat kelahiran (manusa yadnya), yaitu marisuddha (ngruwat) orang yang dilahirkan pada wuku wayang. Wayang Suddhamala dan wayang Lemah itu mempunyai fungsi lebih umum, yaitu manusa yadnya, pitra yadnya, dewa yadnya, buta yadnya dan resi yadnya.

Garis-garis besar wayang Sapu Leger yang terangker itu adalah : Baca lebih lanjut