Perayaan Budha Wage Kelawu

Dewi LaksmiBuda Cemeng Kelawu atau Buda Wage Kelawu yang jatuh setiap hari Rabu pada wuku Kelawu di penanggalan Bali, merupakan hari perayaan yang cukup dianggap penting oleh umat Hindu khususnya di Bali.

Pada hari ini, umat Hindu meluangkan waktu untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa melalui manifestasinya sebagai Dewi Laksmi (dikenal juga sebagai Sanghyang Sedana/Rambut Sedana) yang telah memberikan kekayaan/rejeki/kemakmuran kepada manusia untuk bertahan hidup. Dalam perkembangannya, hari perayaan ini lebih dikhususkan kepada bentuk/perwujudan uang sebagai simbol dari kekayaan/rejeki/kemakmuran itu sendiri.

Dalam tradisi, perayaan Budha Wage Kelawu (Cemeng), sering diartikan sebagai perayaan kepada Betara Rambut Sedana; perayaan kepada ‘Dia’ yang mememiliki kekayaan yang sesungguhnya.
Karena itu, pada hari Rabu, Wage, Kelawu, bagi yang meyakininya, akan menghindari melakukan transaksi jual beli; sebab pada hari itu, “Dia” yang memiliki kekayaan tengah melakukan yoganya. Maka tradisi ‘ekonomis’ yang menarik; sebab dalam sekali waktu ‘uang’ tidak dipergunakan. Walau dalam sehari, alangkah menariknya jika seseorang dibebaskan dari ‘ketakutan’ akan ketiadaan uang. Bayangkan andai serentak terjadi dalam sehari, semua orang tidak melakukan transaksi jual beli (?) Bagaimanakah sesungguhnya memaknai posisi uang dalam kehidupan manusia saat seperti itu (?) Kekacauankah akan terjadi atau akan hadir makna baru dalam menilai uang dalam kehidupan masa kini; yang memang menilai keberhasilan seseorang dari kekayaan, jabatan; dari busana luarnya; tidak peduli asal muasal kekayaan itu; didapatkan dengan jalan suci ataukah menipu? Uang telah terbukti ‘ menipu’ kejujuran hati, ‘penguasa’ dan “tuhan” yang sesungguhnya di masa kini.

Dalam pengertian yang luas, perayaan Budha Wage Kelawu; mengingatkan kembali akan keberadaan artha dalam konteks Catur Purusa Artha; ( Artha, Kama, Dharma dan Moksa). Tidak dalam pengertian sebatas kekayaan, namun artha yang berasal dari bahasa sansekerta mengandung arti pula sebagai: “tujuan, sebab, motif, makna, pengertian, dalam konteks ide kemakmuran materi’. Artha juga mencakup konsep dalam arti mencapai ketenaran, dan memiliki kedudukan sosial yang tinggi, yang akan kait mengkaitkan proses pencapaiannya dengan tiga lainnya yang ada dalam Catur Purusa Artha, terutama kepada dharma (kebenaran).

Dalam keseharian, Artha, adalah salah satu dari empat tujuan hidup ditempatkan, sebagai tujuan mulia asalkan mengikuti perintah Veda; berdasarkan moralitas! Asalkan berdasarkan dharma (kebenaran), bukan semata karena kama (kesenangan fisik atau emosional). Nah, jika itu terpenuhi maka manusia akan menuju Moksha (pembebasan). Dalam cara pandang yang lain, Artha ditempatkan juga sebagai salah satu (kewajiban) seseorang dalam kehidupan tahap keduanya, kewajiban mengumpulkan harta benda sebanyak mungkin, namun dengan syarat ; tanpa menjadi serakah, dengan tujuan untuk membantu dan mendukung keluarga serta masyarakatnya.

Di dalam Catur Purusa Artha telah diingatkan akan tujuan mutlak yang tertinggi bagi umat Hindu; yakni Moksa, yaitu pembebasan Atma dari Triguna (Satwam, Rajas dan Tamas), dapat pula tercapai melalui Reinkarnasi dengan hukum Karmanya (Karma Pala). Untuk mencapai Moksa harus dilandasi dengan Dharma; Setiap tindakan (karma) yang dilakukan harus berdasarkan Dharma; serta ajaran Dharma yang terdapat dalam Weda harus ditegakkan.

Itulah sebabnya, perayaan Budha Wage Kelawu sangatlah penting di masa sekarang ini; sebab negara dan masyarakat Indonesia tengah menonton secara nyata; tindakan korupsi yang tidak hanya dilakukan oleh satu-dua orang saja, korupsi tidak cuma dalam soal mencuri uang negara! Namun hampir disemua lapisan masyarakat telah terjadi pengkorupsian tata krama-tata nilai; nilai-nilai kemanusiaan dilenyapkan dengan cara mengakali aturan, mencari pembenaran bagi kesalahan, yang membelokan penilaian masyarakat kepada tujuan hidupnya makin jauh dari kebenaran (dharma). Kini, mereka yang fashion religius; berpura-pura suci dan taat menjalankan ajaran mulia, dikagumi dan dicontohi, walau jelas, belumlah tentu mereka yang berpura-pura suci itu menjalankan ajaran mulia, hanya ‘busananya’ yang religius. Dibalik perilaku fashion religius itu yang ada adalah semangat memanfaatkan ajaran agama untuk kepentingan pribadi: untuk keuntungan baik materi, status sosial dan ketenaran. Kemudian ‘Fashion humanis’, perilaku seolah-olah menjalankan penghormatan kepada keragaman, perilaku sayang lingkungan; tidak membeda-bedakan siapapun; namun dibalik semua itu, membiarkan terjadinya berbagai peristiwa menindas yang lemah; sibuk membangun wacana, bersilat lidah, namun membiarkan kekerasan terjadi dimana-mana baik phisik maupun psikis; baik melalui kekuasaan maupun kecendekiaan. Maka dalam bahasa putus asa; maka zaman ini pun berkata: itu semua ujungnya duit! Uanglah sebabnya!

Harta! Yang memiliki harta seolah tidak akan terkena hukum karma (?) Masyarakat melihat, bagaimana orang yang dipenjara dapat hidup mewah karena hartanya! Pelaku korupsi dapat menjadi calon pejabat publik, mantan pengguna narkoba pun dapat menjadi anggota parlemen, dst!: semuanya ‘disahkan’ oleh harta, oleh uang! Disucikan dan dibenarkan oleh uang!
Karena itu, Artha, pada Budha Wage Kelawu ini; bagi siapa saja; dari gubernur sampai kepala desa, dari pemilik hotel sampai pemilik warung; tengah ditanyai oleh Artha itu sendiri. Benarkan kekayaanmu itu, sedikit ataukah banyak, apakah semua itu didapat berdasarkan dharma?

Jika pun engkau ragu tentang kesucian asal hartamu, lalu berusaha gagah mendandani upacaramu dengan sajen aneka rupa, dengan mengundang pendeta sakti mandraguna: hukum karma tetap menghitung dengan cermat; jika seketika hukumanya tiba, beruntunglah, karena akan segera engkau pahami apa hukumannya bagi yang memiliki artha dengan cara yang salah, jika nanti, kelak setelah engkau tiada atau pada kelahiranmu nanti hukuman itu baru tiba, melalui reinkarnasi barulah hukuman dirasakan oleh anak-cucumu; tersenyumlah saat ini, sebab engkau tertipu oleh kenikmatanmu hari ini, tak akan terbayangkan hukum karma itu bagi kelahiranmu nanti!

Karena itu, tak ada yang terlambat untuk kembali meyogakan diri pada hari Budha Wage Kelawu; segera mengoreksi kekayaan, sedikit ataukah banyak: benarkah didapatkan dengan jalan kebaikan? Berdasarkan dharmakah? Jika tidak: apa boleh buat, hukum dunia boleh ditipu, citra maya dapat mempesona, namun hukum karma berjalan tetap dengan pasti; Atmamu pun terikat pada rajas dan tamas, beribu upacara pun tak akan pernah membuat hidupmu damai, begitu yang dajarkan mengenai Artha, mengenai perayaan Budha Wage Kelawu, perayaan yang mengingatkan kembali tentang tujuan mulia.

Secara tradisi, hari Rabu Wage Kelawu ini diyakini: Sang Batara Rambut Sedana tengah beryoga, maka usahakan, jangan melakukan transaksi jual-beli! Tujuannya,: coba diingat-ingat; apa yang engkau pamerkan, apa yang engkau sumbangkan? Apa yang engkau makan, apa yang engkau gunakan, dst. Apakah semua itu didapat dengan jalan dharma? Atau kamu cuma percaya semua itu didapatkan dari jerih payahmu sebagai harta kerkayaanmu! Semata-mata didapatkan dibeli dari uangmu? Tarik nafaslah, heningkan diri. Semoga disaat itu, tujuan mulia menegur hati, bahwa semua kekayaan itu, tiada lain atas karuniaNya! Dan yang tak ternilai adalah jalan kebenaran (dharma) sebagai hartamu! …….Demikianlah; Selamat Budha Wage kelawu!

(by. cok sawitri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s