Apa sebenarnya perayaan hari raya Nyepi di Bali

Om Swastyastu,
Om Awighnam Astu Namo Sidham,
Om Sidhi Rastu Tat Astu Swaha,

Nyepi merupakan Hari Raya Umat Hindu untuk memperingati perayaan Tahun Baru Saka. Bagi masyarakat Hindu Bali Nyepi identik dengan hari di mana kita tidak keluar rumah seharian,  hari di mana kita tidak melakukan pekerjaan apapun seharian, hari tanpa kebisingan, di mana malam harinya sepi dan gelap gulita karena tidak boleh menyalakan lampu, hari yang memberi kesempatan untuk “mulat sarira” (introspeksi/kembali ke jati diri) dengan merenung atau meditasi, hari dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian  atau malah ada juga yang mengidentikan dengan hari hemat energi.çaka1936

Apakah sebenarnya Hari Nyepi itu, bagaimana sejarahnya perayaan Nyepi bisa seperti saat ini? Apa tujuan dan makna dari pelaksanaan Hari Raya Nyepi? Bagaimana cara pelaksanaannya? Itulah berbagai pertanyaan yang ada di pikiran banyak orang. Maka dari itu, pada kesempatan ini saya akan mencoba berbagi pengetahuan dengan saudara-saudara yang saya peroleh dari berbagai sumber, semoga bermanfaat menambah pengetahuan kita tentang Hari Raya Nyepi.

SEJARAH NYEPI

Umat sedharma yang berbahagia, kita semua tahu bahwa agama Hindu berasal dari India dengan kitab sucinya Weda. Di awal abad masehi bahkan sebelumnya, Negeri India dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan.

Pertikaian antar suku-suku bangsa, al. (Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya) menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antar suku menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama itu. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa, maupun karena adanya penafsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini.

Dan pertikaian yang panjang pada akhirnya suku Saka menjadi pemenang di bawah pimpinan Raja Kaniskha I yang dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka, tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 Saka, pada bulan Maret tahun 78 masehi.

Dari sini dapat diketahui bahwa peringatan pergantian tarikh saka adalah hari keberhasilan kepemimpinan Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda. Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di Indonesia. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang.

Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebar-luaskan keseluruh daratan India dan Asia lainnya bahkan sampal ke Indonesia.

Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia, sistem penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia. Itu dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat (India) yang mendarat di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 456 Masehi. Dinyatakan Sang Aji Saka di samping telah berhasil mensosialisasikan peringatan pergantian tahun saka ini, juga dan peristiwa yang dialami dua orang punakawan/ pengiring atau caraka beliau diriwayatkan lahirnya aksara Jawa. Karena Aji Saka diiringi dua orang punakawan yang sama-sama setia, sama-sama sakti, sama-sama teguh dan sama-sama mati dalam mempertahankan kebenaran demi pengabdiannya kepada Sang Pandita Aji Saka.

Demikianlah awal mula perkembangan Tahun Saka di Indonesia. Pada zaman Majapahit, Tahun Saka benar-benar telah eksis menjadi kalender kerajaan. Di Kerajaan Majapahit pada setiap bulan Caitra (Maret), Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. Di alun-alun Majapahit, berkumpul seluruh kepala desa, prajurit, para sarjana, Pendeta  dan Sri Baginda Raja. Topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat.

Pada tahun 456 M (atau Tahun 378 S), datang ke Indonesia seorang Pendeta penyebar Agama Hindu yang bernama Aji Saka asal dari Gujarat, India. Beliau mendarat di pantai Rembang (Jawa Tengah) dan mengembangkan Agama Hindu di Jawa.

Ketika Majapahit berkuasa, (abad ke-13 M) Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kitab Nagara Kartagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII, XII, LXXXV, LXXXVI – XCII. Sejak itu Tahun Saka resmi digunakan di Indonesia. Masuknya Agama Hindu ke Bali kemudian disusul oleh penaklukan Bali oleh Majapahit pada abad ke-14 dengan sendirinya membakukan sistem Tahun Saka di Bali hingga sekarang. Di Bali, perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Hari Raya Nyepi ini dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. Biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April.

Perpaduan budaya (akulturasi) Hindu India dengan kearifan lokal budaya Hindu Indonesia (Bali) dalam perayaan Tahun Baru Saka inilah yang menjadi pelaksanaan Hari Raya Nyepi unik seperti saat ini.

KEISTIMEWAAN NYEPI

Umat sedharma yang saya cintai. Nyepi berasal dari kata “sepi”, “sipeng” yang berarti sepi, hening, sunyi,  senyap. Seperti namanya perayaan tahun baru Saka bagi umat Hindu di Indonesia ini dirayakan sangat berbeda dengan perayaan Tahun Baru lainnya, di mana perayaan umumnya identik dengan gemerlapnya pesta dan kemeriahan, dan euforia dan hura-hura tetapi umat Hindu dalam merayakan Nyepi malah dilaksanakan dengan Menyepi, “Sepi”, “Hening”, ”Sunyi”, ”Senyap”.

Mungkin pertanyaan muncul di benak kita, Mengapa perayaan Tahun Baru Saka tidak dilaksanakan dengan ramai dan pesta seperti perayan tahun baru pada umumnya? Menurut saya ini merupakan cermin kebijaksanaan dan kejeniusan lehuhur kita, di mana seperti pada perayaan Hari Raya Siwarari, leluhur kita selalu menekankan kita tentang konsep “mulat sarira”. Perayaan dalam hening dan sepi agar kita belajar (instrospeksi/kembali ke jati diri) dengan merenung, meditasi, evaluasi diri dan bertanya  tentang diri kita, siapa kita? Mengapa kita ada di sini? Akan kemanakah kita nanti? Selama setahun ini apakah yang kesalahan kita yang perlu diperbaiki? Dan bukankah dalam sepi dan hening kedamaian dan kejernihan pikiran lebih mudah tercapai ?

Pelaksanaan Nyepi di Bali (Indonesia) memang unik dan istimewa,  konsep“mulat sarira” dengan “Catur Brata Penyepian” nya memang sangat relevan dengan kondisi dunia sekarang ini. Saat ini bumi kita sedang menghadapi berbagai masalah seperti global warming, alam yang rusak karena polusi dan eksploitasi besar-besaran, krisis energi dan permasalahan lainnya yang disebabkan oleh kemerosotan moral.

Perayaan Nyepi dengan Catur Brata Penyepiannya membuat Bali sebagai satu-satunya pulau di dunia yang mampu mengistirahatkan seisi pulau secara total sehari penuh dari berbagai aktivitas.

Ketika Nyepi semua orang dilarang menyalakan lampu mulai dari pukul 06.00 sampai jam 06.00 hari berikutnya. Di sini Nyepi memberikan contoh bagaimana praktik menghemat energi, setidaknya selama satu hari penuh. Nyaris tidak ada pemakaian apalagi pemborosan energi. Alam pun seolah tahu hal ini dengan memberikan penerangan cahaya ribuan bintang dan pantulan sinar bulan. Nyepi sehari di Bali ternyata bisa melakukan penghematan penggunaan listrik hingga mencapai 4 Milyar, bayangkan apabila Nyepi juga dilaksanakan di tempat lain.

Di hari Nyepi semua orang dilarang keluar rumah apalagi berkendaraan di jalan. Meski ada pengecualian untuk orang sakit, tapi tetap saja ada manfaat besar di situ. Hitunglah berapa ribu liter bensin, pertamax dan solar bisa disimpan setelah biasanya dihambur-hamburkan ribuan kendaraan di jalan. Juga saya bisa rasakan betapa nikmatnya udara penuh oksigen dan bebas dari polusi berbahaya gas buang ribuan kendaraan yang biasanya berlalu lalang. Suara bising kendaraan pun lenyap. Setahun sekali memberi kesempatan kepada alam semesta untuk bebas menghirup  segarnya udara tanpa asap dan polusi kendaraan dan mesin.

Dengan Nyepi kita diberi kesempatan memperoleh ketenangan dan kedamaian mendengarkan kicauan burung dan nyanyian alam yang sedang tersenyum sumringah karena bisa beristirahat sejenak pada hari ini setelah setahun bekerja keras memenuhi keinginan manusia yang tidak ada habisnya.

Selain sepi dari suara, kebanyakan orang juga tidak menyalakan televisi selama Nyepi. Meski tidak ada larangan khusus untuk itu, tapi “kesadaran” untuk itu cukup tinggi. Hasilnya, ibu-ibu tidak perlu lagi mendengar gosip murahan infotainment yang bisa mengotori hati.

Konstituen tidak harus menerima suguhan busa-busa lidah para politikus yang menghiasi diskusi-diskusi penuh topeng itu. Konsumen tidak perlu miris menonton iklan-iklan hedonis nan bombastis. Anak-anak juga aman dari tayangan kekerasan. Keluarga terbebas dari sinetron mistik yang membodohi logika dan pentas syahwat yang mengumbar aurat. Meski sebentar, Nyepi menawarkan obyektivitas tanpa bias.

Pasar, mall, dan toko-toko semuanya tutup. Hari ini semua bibir yang biasanya berbohong untuk meyakinkan pembeli, berhenti merugikan pembeli. Kantor-kantor birokrasi juga tutup. Hari ini aksi mark up proyek berhenti. Aksi sogok menyogok yang menjengkelkan seperti dalam iklan sebuah rokok itu juga stop. Praktik korupsi hari ini sementara jeda dari jadwal kerja.

Terminal bus, pelabuhan kapal dan bandar udara juga tidak beroperasi. Hari ini tidak ada penumpang ditipu calo dan dirugikan akibat delay jadwal. Tempat rekreasi dan hiburan semuanya libur. Hari ini pantai melakoni gurah sampah.

Pelaksanaan Nyepi di Bali bisa seperti saat ini di dukung oleh Pemerintah dan Dunia Internasional dengan penutupan semua pintu masuk ke Bali mulai dari bandara dan pelabuhan-pelabuhan. Penghentian siaran radio dan TV di Bali selama 1 hari 24 jam untuk menghormati Umat Hindu yang merayakan, bahkan dunia internasional pun mengakui keluhuran dan keistimewaan pelaksanaan Nyepi di Bali dengan ramainya wacana merayakan untuk menyediakan waktu Nyepi sehari untuk dunia “World Silence Day”, ya walaupun saat ini baru  berupa wacana saja.

RANGKAIAN PELAKSANAAN NYEPI

Para Umat sedharma, melalui dharma wacana ini saya ingin mencoba berbagi tentang pesan – pesan nyepi yang saya rasakan dan dapatkan dari perenungan akan rangkaian hari raya nyepi tersebut.  Di dalam rangkaian hari raya Nyepi sebenarnya terkandung makna yang mendalam tentang apa yang sangat dibutuhkan oleh umat manusia sekarang ini. Apa sesunguhnya hal yang sangat kita perlukan itu? Disaat beban hidup semakin berat, kehidupan semakin keras, belum lagi dihantui oleh tindakan kriminal, bencana alam dan aneka kejadian yang akan semakin menggoncangkan jiwa, maka yang paling kita butuhkan  adalah Kedamaian. Rangkaian hari raya Nyepi yang dimulai dari Melasti/Mekiis, Tawur atau Ngerupuk, Nyepi, Ngembak Geni dan Dharma Santhi sebenarnya adalah rangkain penuh makna untuk mencapai kedamaian tersebut.

  1. Melasti

    Berasal dari kata  Mala = kotoran/ leteh, dan Asti = membuang/memusnahkan, Melasti merupakan rangkaian upacara Nyepi yang bertujuan untuk membersihkan segala kotoran badan dan pikiran (buana alit), dan juga alat upacara (buana agung) serta memohon air suci kehidupan (tirta amertha) bagi kesejahteraan manusia. Pelaksanaan melasti ini biasanya dilakukan dengan membawa arca, pretima, barong yang merupakan simbolis untuk memuja manifestasi Ida Sang Hyang Widi Wasa diarak oleh umat menuju laut atau sumber air untuk memohon pembersihan dan tirta amertha. Seperti dinyatakan dalam Rg. Weda II. 35.3 “Apam napatam paritasthur apah” yang artinya “Air yang berasal dari mata air dan laut mempunyai kekuatan untuk menyucikan”. Selesai melasti Pretima, arca dan sesuhunan barong biasanya dilinggihkan di Bale Agung (Pura Desa) untuk memberkati umat dan pelaksanaan Tawur Kesanga.Secara umum mekiis itu memang kita artikan sebagai proses memohon tirta amerta untuk kesejahteraan semesta. Namun di samping itu, saya mendapat sebuah pemaknaan yang berhubungan dengan proses mencapai kedamaian tadi. Saat kita ada di pantai, maka yang pertama kita lihat adalah deburan ombak, laut biru yang tenang dan garis cakrawala yang luas membentang. Hal tersebut seakan berbicara kepada kita, “wahai engkau umat manusia, sudah kewajibanmu untuk belajar agama sebagai bekal di kehidupanmu. Namun jika engkau mempelajari agama janganlah belajar setengah – setengah, janganlah mempelajari pinggirannya. Jika engkau hanya belajar agama hanya dipinggirannya, maka engkau tak ubahnya seperti ombak di pinggiran pantai ini” Orang yang bagaikan ombak dipinggiran pantai bicaranya selalu besar, merasa paling hebat, selalu ingin menguasai daratan, serta jiwanya bergemuruh dan tidak tenang.Lalu bagaimankah seharusnya seseorang mempelajari agama? Laut yang biru kembali berkata, “Pelajarilah hingga ke dalam, selamilah hingga kedasarnya, maka engkau akan mendapatkan ketenangan dan sekaligus kekuatan yang maha dasyat” Saat kita memandangi birunya laut, maka airnya sungguhlah tenang, jernih dan memikat. Begitupula dengan orang yang telah mendalami ajaran agama, hidupnya akan tenang, pikirannya akan jernih dan hidupnya pun akan penuh dengan keindahan yang menawan. Dan bentangan cakrawala di laut seakan berkata pada kita untuk membuka wawasan dan pikiran kita seluas luasnya bagai lautan yang tak bertepi. Jadi makna dari proses melasti adalah jalan pertama yang harus kita tempuh untuk menuju kedamaian tersebut

  2. Tawur Agung/Tawur Kesanga atau Pengrupukan

    Dilaksanakan sehari menjelang Nyepi yang jatuh tepat pada Tilem Sasih Kesanga. Pecaruan atau Tawur dilaksanakan di catuspata pada waktu tepat tengah hari. Filosofi Tawur adalah sebagai berikut tawur artinya membayar atau mengembalikan. Apa yang dibayar dan dikembalikan? Adalah sari-sari alam yang telah dihisap atau digunakan manusia. Sehingga terjadi keseimbangan maka sari-sari alam itu dikembalikan dengan upacara Tawur/Pecaruan yang dipersembahkan kepada Bhuta sehingga tidak menggangu manusia melainkan bisa hidup secara harmonis (butha somya).Filosofi tawur dilaksanakan di catuspata yaitu di tengah-tengah perempatan jalan utama. Posisi di tengah perempatan jalan ini mengingatkan kita agar selalu memposisikan diri di tengah. Apabila kita berposisi di tengah maka kita akan sadar, tahu yang mana yang disebut Timur, Barat, Selatan dan Utara. Sejalan dengan catus pata tersebut adalah lambang tampak dara yang sering kita pakai. Tampak dara juga melambangkan keseimbangan atas bawah, kiri dan kanan. Umat diminta sadar akan posisinya untuk selalu menjaga hubungan ke atas (tuhan), ke bawah (alam lingkungan) dan kepada sesama umat (kiri dan kanan).Setelah tawur pada catus pata diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesui, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Pada malam pengerupukan ini, di Bali biasanya tiap desa dimeriahkan dengan adanya ogoh-ogoh yang diarak keliling desa disertai dengan berbagai suara mulai dari kulkul, petasan, gong, dan yang lainnya.Ogoh-ogoh umumnya dengan rupa seram, mata melotot, susu menggelantung yang melambangkan buta kala dalam berbagai rupa, juga menunjukkan kreativitas dari anak muda yang luar biasa yang menonjolkan seni dan budayanya.

  3. Nyepi

    Jatuh pada Penanggal Apisan Sasih Kedasa (tanggal 1 bulan ke 10 Tahun Saka). Umat Hindu merayakan Nyepi selama 24 jam, dari matahari terbit (jam 6 pagi) sampai jam 6 pagi besoknya. Umat diharapkan bisa melaksanakan “Catur Brata Penyepian” yaitu : Amati Geni artinya tidak boleh berapi-api baik api secara fisik maupun api di dalam diri (nafsu). Amati Karya artinya tidak boleh beraktivitas/bekerja. Amati Lelungan, dari kata lelunga yang artinya bepergian, artinya tidak boleh bepergian keluar rumah. Amati Lelanguan artinya tidak boleh bersenang-senang/menyalakan TV/radio/internet yang bersifat hiburan.Dengan adanya Catur Brata Penyepian ini, mengingatkan kita agar belajar untuk  mengendalikan diri  dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian sehingga kita bisa fokus dan berkonsentrasi dengan baik untuk mulat sarira (kembali ke jati diri) melalui perenungan dan meditasi.  Disaat Nyepi inilah kita diberi waktu untuk mengenali diri sendiri, baik itu sikap, tingkah laku, dan segala hal yang telah kita lakukan. Di hari raya Nyepi kita belajar untuk menilai diri sendiri dan mensyukuri anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan. Selain Catur Brata Penyepian, bagi umat yang mampu akan sangat bagus jika pada Nyepi bisa melaksanakan tapa, brata, yoga, samadi misalnya dengan puasa selama 24 jam, dan juga monobrata yaitu tidak ngomong alias puasa berbicara sambil selalu memfokuskan pikiran kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.

  4. Ngembak Geni

    Tahapan berikutnya adalah Ngembak geni. Ngembak artinya membuka, geni adalah Brahma, Brahma adalah simbul penciptaan. Jadi setelah kita mendalami agama, membuka wawasan, memposisikan diri seimbang dan introspeksi diri, maka selanjutnya adalah membuka (ngembak) lembar kehidupan baru. Dengan membuka lembar kehidupan baru, melandasi hidup atas ajaran agama, membuka wawasan dan memposisikan diri seimbang, maka barulah kita bisa mendapatkan kedamaian (santhi) yang dilandasi atas Dharma. Pada hari ini tapa brata yang kita laksanakan selama 24 Jam (Nyepi) bisa diakhiri  dan kembali bisa beraktivitas seperti biasa, memulai hari yang baru untuk berkarya dan mencipta atau berkreativitas kembali sesuai swadharma/kewajiban masing-masing. Ngembak geni biasanya diisi dengan kegiatan mengunjungi kerabat dan saudara untuk mesima krama, bertegur sapa sambil mengucapkan selamat hari raya dan bermaaf-maafan.

  5. Dharma Santhi

    Adalah puncak dari rangkaian hari raya Nyepi tersebut yang merupakan rangkaian terakhir dari hari raya Nyepi. Dharma Santi juga diselenggarakan setelah Nyepi yaitu dengan mengadakan dialog keagamaan sekaligus tempat untuk mesimakrama alias bersilaturahmi dengan sesama. Adapun Dharma Santi sebagai rangkaian akhir Nyepi merupakan hal yang wajib dilaksanakan, baik di lingkungan keluarga, warga dekat maupun warga bangsa. Karena Weda menyatakan “Wasudewa kutumbakan” (seluruh dunia adalah bersaudana). Atau sarwa asa mama mitram bhawantu (Jadikanlah seluruh penjuru dunia sebagai sahabat kami). Dengan Dharma Santi kita dapat saling memaafkan jika ada kesalahan atau kekeliruan yang pernah terjadi setidak-tidaknya dalam jangka waktu satu tahun sebelumnya. Di samping itu juga untuk berbincang-bincang perihal kehidupan bersama kita ke depan karena kondisi yang dihadapi akan semakin sulit dan semakin komplek, serba multi; multi etnis, multi dimensi, multi kepentingan, multi karakter dan multi kultural. Oleh karena itu dharma Santi dapat dilaksanakan di mana saja dan kapan saja setelah Nyepi asal tidak lewat dari waktu kurang lebih sebulan sesudah Nyepi. Sangat baik kalau setiap habis hari raya keagamaan (bukan hanya pada Nyepi saja) diikuti dengan Dharma Santi atau simakrama, atau secara spiritual sering juga dilakukan jika ada upacara piodalan di Pura dengan “meprani”. Mesimakrama, meprani atau dharma Santi merupakan ajang berdialog antar sesama tentang berbagai aspek kehidupan, seperti yang kita lakukan sekarang ini.

MAKNA NYEPI

Sesungguhnya, Nyepi adalah Yadnya. Yadnya dilaksanakan karena kita ingin mencapai kebenaran. Dalam Yajur Weda XIX. 30 dinyatakan :

“Pratena diksam apnoti, diksaya apnoti daksina.

Daksina sradham apnoti, sraddhaya satyam apyate”.

Artinya :

Melalui pengabdian/yadnya kita memperoleh kesucian, dengan kesucian kita mendapat kemuliaan. Dengan kemuliaan kita mendapat kehormatan, dan dengan kehormatan kita memperoleh kebenaran.

Jika kita renungi secara mendalam perayaan Nyepi mengandung makna dan tujuan yang sangat dalam dan mulia.  Seluruh rangkaian Nyepi merupakan sebuah dialog spiritual yang dilakukan umat Hindu agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis sehingga ketenangan dan kedamaian hidup bisa terwujud. Mulai dari Melasti/mekiis dan nyejer/ngaturang bakti di Balai Agung adalah dialog spiritual manusia dengan Alam dan Tuhan Yang Maha Esa, dengan segala manifetasi-Nya serta para leluhur yang telah disucikan. Tawur Agung dengan segala rangkaiannya adalah dialog spiritual manusia dengan alam sekitar dan ciptaan Tuhan yang lain yaitu para bhuta demi keseimbangan bhuana agung bhuana alit.

Pelaksanaan catur brata penyepian merupakan dialog spiritual antara diri sejati (Sang Atma) umat dengan sang pencipta (Paramatma) Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam diri manusia ada atman (si Dia) yang bersumber dari sang Pencipta Paramatma (Beliau Tuhan Yang Maha Esa). Dan Ngembak Geni dengan Dharma Shantinya merupakan dialog spiritual antara kita dengan sesama. Sima krama atau dharma Santi adalah dialog antar sesama tentang apa dan bagaimana yang sudah, dan yang sekarang serta yang akan datang. Bagaimana kita dapat meningkatkan kehidupan lahir batin kita ke depan dengan berpijak pada pengalaman selama ini.

Maka dengan peringatan pergantian tahun baru saka (Nyepi) umat telah melakukan dialog spiritual kepada semua pihak dengan Tuhan yang dipuja, para leluhur, dengan para bhuta, dengan diri sendiri dan sesama manusia demi keseimbangan, keharmonisan, kesejahteraan, dan kedamaian bersama.

Sehingga melalui Perayaan Nyepi, dalam hening sepi kita kembai ke jati diri (mulat sarira) dan menjaga keseimbangan/keharmonisan hubungan antara kita dengan Tuhan, Alam lingkungan (Butha) dan sesama sehingga Ketenangan dan Kedamaian hidup bisa terwujud.

Umat sedharma yang berbahagia, akhirnya dharma wacana dalam Dharma Santi Nyepi ini saya akhiri sampai di sini. Dengan ulasan tersebut saya ingin mengajak seluruh umat agar memaknai lebih mendalam rangkaian hari raya Nyepi tersebut. Dengan pemahaman yang mendalam maka akan tumbuh kesadaran untuk selalu memperdalam agama, membuka wawasan pikiran, hidup dalam keseimbangan lahir dan bathin, selalu introspeksi diri agar tercapainya kedamaian dalam diri. Memaknai Nyepi hendaknya tidak setahun sekali, alangkah indahnya jika kita bisa memaknai dan melaksanakan nilai-nilai suci dan kedamaian Nyepi dalam kehidupan sehari-hari. Nyepi dititik beratkan pada pendalaman oleh masing masing individu. Jika setiap orang sudah santhi, maka masyarakat juga akan santhi. Kalau dituang dalam sebuah pantun boleh jadi sebagai berikut :

Dengan bunga membuat yadnya,

melasti bersama pergi ke pantai.

Jika agama hanya wacana,

kondisi sejahtera, aman damai susah dicapai.

Om Ano bhadrah kratawo yantu wiswatah

(semoga semua pikiran yang baik datang dari segala arah penjuru)

Om Santih, Santih, Santih Om

sumber :pandejuliana.wordpress.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s