SARASWATI, MOMENTUM MEMULIAKAN IBU DAN ILMU PENGETAHUAN

Hari suci Saraswati merupakan hari suci berdasarkan wuku (pawukon) yang dirayakan setiap 210 hari (6 bulan) sekali yaitu pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Hari ini disebut juga sebagai Piodalan Sang Hyang Aji Saraswati. Perayaan ini dilaksanakan sebagai ungkapan puji syukur dan puja kepadanya-Nya atas diturunkannya ilmu pengetahuan suci bagi umat manusia; juga memohon kelanggengan ilmu pengetahuan dan dapat berjaya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Saraswati berasal dari bahasa Sanskerta yaitu dari kata saras artinya sesuatu yang mengalir, dan wati adalah akhiran dalam Sanskerta yang bermakna memiliki. Jadi Saraswati bermakna sesuatu yang mengalir, percakapan, atau kata-kata. Di dalam kitab suci Weda Saraswati dipuja sebagai Dewi sungai. Posisinya sebagai Dewi kata-kata baru ditemui dalam kitab-kitab Brahmana, Ramayana,dan Mahabharata. Saraswati dikenal sebagai Sakti Dewa Brahma. Dengan demikian sebutan Saraswati sejatinya telah muncul sejak jaman Weda. Seiring perkembangannya Saraswati memiliki banyak gelar yang merupakan pengejawantahan dari salah satu ayat dalam kitab suci yaitu : Ekam satwiprah bahuda  wadanti, yang artinya hanya satu Tuhan tetapi para orang arif bijaksana menyebut-Nya dengan banyak nama. Saraswati juga dikenal sebagai Dewi Ilmu pengetahuan karena sebuah kisah dalam purana yang menyebutkan ketika Saraswati turun kedunia, beliau memiliki saudara yang bernama Saraswata. Saraswata sangatlah bodoh banyak Guru yang tidak mau mengajarinya. Saraswati merasa kasihan kepada saudaranya itu kemudian Saraswati mengajarkan kepada Saraswata intisari dari keempat Kitab Weda yang sangat luas kepada Saraswata hanya dalam waktu 4 hari. Bahkan Narada pun dibuat bingung akan luasnya intisari Weda yang di ajarkan oleh Saraswati oleh karena itulah Dewi Saraswati disebut sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan. Secara simboliasi visual, Dewi Saraswati dilukiskan sebagai dewi yang sangat cantik, bertangan empat dengan masing-masing tangan memegang genitri (tasbih), keropak (pustaka/lontar), wina (sejenis alat musik petik), dan teratai (lotus). Di dekatnya terlukis seekor burung merak dan angsa. Simbol-simbol tersebut memiliki arti sebagai berikut:

  1. Wanita cantik : Sifat pengetahuan itu sangat mulia, lemah lembut dan menarik hati.Penguasaan ilmu pengetahuan merupakan obsesi tiap manusia, karena dengan ilmu pengetahuan kita dapat menyasar tujuan hidup mencapai jagadhita dan menuju moksa.
  2. Genitri : Lambang bahwa pengetahuan itu tidak ada awal dan akhirnya. Selama hidup tidak akan habis dipelajari
  3. Keropak : Keropak : Lambang dari sumber pengetahuan. Tuhan merupakan sumber segala pengetahuan yang anadi-ananta, dan beliau merupakan pengetahuan yang sejati.
  4. Wina: Ilmu pengetahuan itu sesungguhnya bernilai seni. Penguasaan ilmu pengetahuan menimbulkan vibrasi kesucian, membangkitkan estetika (Sundaram), menuntun menuju jalan yang benar (Satyam), dan memperoleh kemuliaan (Sivam).
  5. Teratai: Teratai : Simbol dari kesucian Sang Hyang Widhi. Bunga teratai hidup di tiga alam yaitu akarnya di dalam lumpur, batangnya hidup dalam air dan bunganya mekar di udara. Demikianlah ilmu pengetahuan akan tumbuh, berkembang dan bermanfaat di tempat manapun.
  6. Merak:  Simbol kewibawaan. Ilmu pengetahuan itu akan memberikan kewibawaan bagi orang yang menguasainya .
  7. Angsa : Melambangkan bahwa ilmu pengetahuan memberi kekuatan yang sangat bijaksana. Dengan ilmu pengetahuan manusia mampu memilih dan memilah-milah mana yang sejati dan mana yang ilusi, mana yang mendatangkan kesenangan duniawi dan mana yang menghadirkan ketenangan rohani. Penguasaan pengetahuan menjadikan seseorang memiliki wiweka.

Rangkaian pelaksanaan perayaan hari raya Saraswati umumnya diisi dengan persembahyangan pada pagi harinya bertempat di Pura, di sekolah, kantor, tempat penyimpanan lontar atau buku-buku perpustakaan. Lalu pada malam harinya dilaksanakan malam sastra dengan pembacaan sloka-sloka kitab suci keagamaan, makekawin, dan ceritacerita yang berhubungan dengan ajaran dharma (Dharma Wacana dan Dharma Tula).

Kemudian keesokan harinya pada redita pahing wuku Sinta melaksanakan upacara Banyupinaruh atau mandi suci, yaitu sebagai simbol telah mendapatkan anugrah ilmu pengetahuan suci. Perayaan Saraswati identik dengan hari rayanya pelajar karena sebagian besar umat yang merayakannya adalah kaum pelajar/siswa. Para siswa akan sangat antusias menyambut datangnya Saraswati. Namun sesungguhnya tidak seperti itu. Setiap hari raya Hindu apapun itu pastilah diperuntukkan bagi umat Hindu, termasuk Saraswati. Jadi, sekalipun Saraswati merupakan peringatan turunnya ilmu pengetahuan bukan berarti hanya kaum pelajar saja yang merayakannya. Perlu diingat bahwa pengetahuan suci diperuntukkan bagi semua kalangan, tidak tergantung dari usia/umur, ras, suku, warna, maupun bangsa. Hal ini dipertegas dalam salah satu mantram Yajur Weda : “Aku sabdakan kata-kata suci ini kepada seluruh umat manusia, Waisya, Sudra, bangsa-Ku, dan bahkan kepada bangsa asing sekalipun”. Di sisi lain, tentu kita masih ingat akan ungkapan “Long Life Education”, pengetahuan sepanjang masa. Maksudnya adalah ilmu pengetahuan itu bisa dipelajari sepanjang hayat, tak peduli usia. Karena itu, sangatlah keliru jika Saraswati disebut hari raya khusus bagi pelajar. Mempelajari ilmu pengetahuan sangatlah penting bagi umat manusia. Apalagi dengan semakin berkembangnya teknologi dan informasi. Maka peranan pengetahuan atau pendidikan sangatlah utama. Ilmu pengetahuan yang perlu dipelajari tidak terbatas jenisnya, karena semua ilmu meski sedikit pastilah ada manfaatnya. Dalam ajaran Hindu, ada dua macam pengetahuan yang wajib dipelajari manusia yaitu Para Widya dan Apara Widya. Para Widya adalah pengetahuan kerohanian atau keagamaan (spiritual), dan Apara Widya adalah ilmu pengetahuan keduniawian (sains). Kedua macam ilmu pengetahuan ini sangat berguna untuk menuntun hidup manusia menuju Moksartham Jagadhita. Sebagaimana disebutkan dalam Manawa Dharma Sastra, V.109 :

Adbhirgatrani suddhyanti,

manah satyena suddhyanti

widyatapobhyam bhutatma

budhhir jnyanena suddyanti.

Artinya: Badan dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran dan kejujuran (satya), atman dibersihkan dengan ilmu pengetahuan suci dan tapa brata, budhi disucikan dengan dhyana (pengetahuan pembandingan yang baik dan benar)

Sangat jelas dalam sloka ini disebutkan bahwa badan kasar dibersihkan dengan air namun lapisan paling halus badan manusia yaitu atma yang merupakan sumber hidup manusia dibersihkan dengan ilmu pengetahuan. Demikianlah pentingnya ilmu pengetahuan menurut Kitab Suci.

Kemudian jika dikaitkan antara Saraswati dan kemuliaan ibu maka perlu dipahami terlebih dahulu peranan dan konsep ibu dalam agama Hindu. Di dalam Kitab Weda ada enam komponen yang disebut sebagai ibu, yaitu ibu yang melahirkan kita, istri raja/kepala negara, istri guru kerohanian/pendeta, perawat/bidan yang membantu kelahiran, sapi, dan bumi pertiwi. Namun, sorotan kita tentu dominan tertuju pada ibunda yang melahirkan kita, guru rupaka kita, di mana kita semua berhutang kelahiran, pemeliharaan, dan pendidikan padanya.

Ibu sebagai Guru Rupaka, adalah sosok guru yang pertama kali memberikan pendidikan dan pengetahuan kepada kita, bahkan semenjak masih berada dalam kandungan. Ibu yang mengasuh kita, mengajari kita bicara, duduk, berjalan, dan sebagainya. Karena itu, tak heran bila Ibu (Mother) sesungguhnya mendapat tempat yang sangat mulia dalam Hindu. Dalam konsep keTuhanan, ibu merupakan kekuatan (Sakti) dari para Dewa. Sakti ini yang sangat berperan ketika para Dewa sebagai manifestasi Tuhan melakukan tugas dan fungsinya. Dengan kata lain, tanpa Sakti, Dewa-dewa tersebut tak bisa melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik.

Demikian juga peranan ibu dalam hidup manusia, demikian penting, sentral dan dominan dalam memberikan kasih sayang, pemeliharaan dan pendidikan awal pada umat manusia. Lebih-lebih pada saat sang ibu mempertaruhkan segenap jiwa dan raganya dalam melahirkan kita semua. Saat ini kita hidup di abad 21 sebagai abad kesetaraan gender atau abad perempuan yang identik dengan apresiasi feminitas dan kemuliaan seorang wanita/ibu, dapat menjadi dimensi proyeksi pemaknaan Saraswati. Jika kita ambil pendekatan makna mitologi historis dari urutan-urutan perayaan Saraswati maka ada suatu untaian kronologis antara tahapan kehidupan manusia, peranan ibu, dan hari Saraswati. Jadi, ada rangkaian makna yang bisa diambil dari sebelas urutan wariga (perhitungan hari berdasarkan kalender Hindu) tersebut mulai dari hari Pemelastali, Candung Watang, dan lain-lainnya hingga Pagerwesi.

  1. Redite Kliwon Watugunung sebagai hari Pemelastali yang dimaknai sebagai saat sang bayi yang ada di rahim ibu akan meninggalkan habitatnya yang selama delapan bulan dihuninya. Pemelastali artinya dipisahkan atau dilepaskan/ditinggalkan.
  2. Soma Umanis Watugunung sebagai hari Candung Watang, di mana sang ibu berjuang menahan rasa sakit, saat sang bayi memposisikan diri dekat dengan mulut rahim.
  3. Anggara Paing Watugunung, sebagai hari Paid-paidan, merupakan peringatan pergulatan sang ibu pada saat sang bayi tampak di mulut rahim, dan terkadang tidak nampak lagi, terjadi tarik menarik dalam waktu tertentu.
  4. Buda Pon Watugunung, sebagai hari Urip Kelantas, di mana berkat anugrah Sang Maha Pengasih, jabang bayi lahir dengan selamat dan diberi urip atau kehidupan.
  5. Wraspati Wage Watugunung sebagai hari Pategtegan, merupakan tonggak imulainya sang ibu mencurahkan segenap kasih sayangnya kepada sang bayi yang baru lahir.
  6. Sukra Kliwon Watugunung, sebagai hari Pangredanan, di mana sang bayi telah tumbuh menjadi balita, anak-anak, dan sudah mulai memerlukan pendanaan untuk biaya sekolah.
  7. Saniscara Umanis Watugunung sebagai hari Saraswati, salah satu mata rantai tahapan yang penuh makna, di mana umat manusia secara ulet dan penuh ketekunan menimba ilmu pengetahuan baik lewat jalur formal, nonformal, maupun otodidak.
  8. Redite Paing Sinta sebagai hari Banyupinaruh, Banyu pinaruh berasal dari kata banyu yang artinya air dan pangaweruh yang artinya pengetahuan yang menyiratkan makna bahwa ilmu pengetahuan itu harus diakses terus-menerus sepanjang hayat (Long life education).
  9. Soma Pon Sinta sebagai hari Soma Ribek yang memberi makna bahwa akumulasi pengetahuan yang diperoleh akan memudahkan manusia menghidupi dirinya sendiri.
  10. Anggara Wage Sinta sebagai hari Sabuh Emas di mana melalui ilmu pengetahuan, dan memperdayakannya dalam kehidupan ini akan membuat manusia hidup makmur, berkecukupan artha, kaya material dan spiritual, dan jagadhita dapat terealisasikan.
  11. Buda Kliwon Sinta sebagai hari Pagerwesi, sebuah tonggak angayubagya kepada Sang Catur Guru atas berkah kehidupan, pengetahuan, perlindungan dan urip yang diberikan kepada umat manusia.

Begitulah untaian makna dari kronologi perayaan Saraswati yang dirayakan umat Hindu. Dengan demikian, Saraswati sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan, dimana kita memuja Sang Hyang Saraswati/Dewi Saraswati ternyata bisa dijadikan momentum untukmemperingati sekaligus mengenang kemuliaan dan kasih sayang ibu. Karena itu, Saraswati hendaknya juga dijadikan momen untuk menghormati ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kita.

Oleh : Ni Kadek P. Noviasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s