Ceremony Saraswati Day


What is Saraswati ceremony in Bali island

Knowledge is very important for Balinese. Every Saniscara, Umanis, Wuku Watugunung, they celebrate Saraswati Day, the knowledge day. It is based on the Pawukon (Balinese calendar) system and the Saniscara (seven day cycle).

The name Saraswati came from “Saras” meaning flow and “wati” meaning a women. So, Saraswati is symbol of knowledge, its flow (or growth) is like a river and knowledge is very interesting, like a beautiful women.

Saraswati is the Goddess of Knowledge, symbolized by a beautiful woman with four hands, riding on a white swan among water lilies to tell humanity that science is like a beautiful woman. Her hands hold a palm leaf; a lontar, (a Balinese traditional book which is the source of science or knowledge); a chain (genitri with 108 pieces) symbolising that knowledge is never ending and has an everlasting life cycle; and a musical instrument (guitar or wina) symbolising that science develops through the growth of culture. The swans symbolise prudence, so that one’s knowledge may distinguish between good and evil and the water lilies (Lotus) are symbols of holiness. The Lotus flower is the holiest for Balinese.

In the afternoon of Saraswati day we are not permitted to read or write the book because all the books are offered. In the evening, called Malam Sastra, people read books (especially religious books) in their houses or in the temple.

Pangredanan (the day before Saraswati)

This is the day of preparation. All the books and lontar are collected together, cleaned and dusted.

Saraswati Day

Saraswati day itself is celebrated by the Balinese people bringing offerings to their holy books and scrolls in their houses, while students celebrate it at school, usually in the morning, and the office-workers in their office. The philosophy of Saraswati day is that the most important thing for human life is knowledge.

Banyu Pinaruh

The day after Saraswati Day is Banyu Pinaruh day. “Banyu” means water and “Pinaruh” mean wisdom. In other words, we must have wisdom which always flows like water and which is useful for human kind. We pray for Dewi Saraswati (manifestation of God) to give us cleverness and wisdom. The people usually take a bath in the sea or a lake or river and drink traditional medicine which is made from many various leaves which is very good for our health. The philosophy of Banyu Pinaruh day is the second most important thing for human life is good health.

Soma Ribek

Two days after Saraswati Day, on Soma (or Monday), Pon, Wuku Sinta, is Soma Ribek day. “Soma” meaning Monday, and “Ribek” meaning full. On this day, Balinese bring offerings to the rice box. They thank God for food and beverage in their lives and pray to Dewi Sri (Goddess of prosperity, manifestation of God) to give prosperity. This celebration remind them to be selective when choosing food and not to over eat to improve their health. The philosophy of Soma Ribek day is the third most important thing for human life is food and drink.

Sabuh Mas

Three days after Saraswati Day, on Anggara (or Tuesday), Wage, Wuku Sinta, is Sabuh Mas day. “Sabuh” means belt, and “Mas” mean gold. On this day, Balinese bring offerings to the deposit box or the place where they keep their jewelry. They thank Mahadewa (manifestation of God) for cloth, money, gold, etc in our lives. This celebration remind them to be selective when spending money. The philosophy of Sabuh Mas day is the fourth most important thing for human life is cloth and gold, etc.

Pagerwesi

Four days after Saraswati Day, on Buda (or Wednesday), Kliwon, Wuku Sinta, is Pagerwesi day. “Pager” meaning fence and “Wesi” meaning iron. On this day, Balinese pray to Sang Hyang Pramesti Guru (manifestation of God). All Balinese have offerings to their Sanggah (temple in their home) and at all of their temples. This is the second biggest holiday after Galungan day for the Balinese. The philosophy of this celebration is that they must keep knowledge, health, food, cloth and gold high in their lives to keep the universe in balance.

Iklan

Hari Raya Galungan dan Kuningan


  Hari Raya Umat Hindu yang jatuh setiap enam bulan kalender Bali tepatnya pada buda keliwon uku dungulan. Pada hari raya galungan dihaturkan sesajen dan banten sebagai perwujudan rasa syukur kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa. Yang disimbolkan sebagai kemenangan Dharma melawan aDharma.

“Galungan – Kuningan” Rangkaian Upacara dan Makna Filosofinya


TUMPEK WARIGA

Jatuh pada hari Saniscara, Kliwon, Wuku Wariga, atau 25 hari sebelum Galungan. Upacara ngerasakin dan ngatagin dilaksanakan untuk memuja Bhatara Sangkara, manifestasi Hyang Widhi, memohon kesuburan tanaman yang berguna bagi kehidupan manusia.

ANGGARA KASIH JULUNGWANGI

Hari Anggara, Kliwon, Wuku Julungwangi atau 15 hari sebelum Galungan. Upacara memberi lelabaan kepada watek Butha dengan mecaru alit di Sanggah pamerajan dan Pura, serta mengadakan pembersihan area menjelang tibanya hari Galungan.

BUDA PON SUNGSANG

Hari Buda, Pon, Wuku Sungsang atau 7 hari sebelum Galungan. Disebut pula sebagai hari Sugian Pengenten yaitu mulainya Nguncal Balung. Nguncal artinya melepas atau membuang, balung artinya tulang; secara filosofis berarti melepas atau membuang segala kekuatan yang bersifat negatif (adharma).

Oleh karena itu disebut juga sebagai Sugian Pengenten, artinya ngentenin (mengingatkan) agar manusia selalu waspada pada godaan-godaan adharma.

Pada masa nguncal balung yang berlangsung selama 42 hari (sampai Buda Kliwon Paang) adalah dewasa tidak baik untuk: membangun rumah, tempat suci, membeli ternak peliharaan, dan pawiwahan.

SUGIAN JAWA

Hari Wraspati, Wage, Wuku Sungsang, atau 6 hari sebelum Galungan. Memuja Hyang Widhi di Pura, Sanggah Pamerajan dengan Banten pereresik, punjung, canang burat wangi, canang raka, memohon kesucian dan kelestarian Bhuwana Agung (alam semesta).

SUGIAN BALI

Hari Sukra, Kliwon, Wuku Sungsang, atau 5 hari sebelum Galungan. Memuja Hyang Widhi di Pura, Sanggah Pamerajan dengan Banten pereresik, punjung, canang burat wangi, canang raka, memohon kesucian, dan keselamatan Bhuwana Alit (diri sendiri).

PENYEKEBAN

Hari Redite, Paing, Wuku Dungulan, atau 3 hari sebelum Galungan. Turunnya Sang Bhuta Galungan yang menggoda manusia untuk berbuat adharma. Galung dalam Bahasa Kawi artinya perang; Bhuta Galungan adalah sifat manusia yang ingin berperang atau berkelahi.

Manusia agar menguatkan diri dengan memuja Bhatara Siwa agar dijauhkan dari sifat yang tidak baik itu. Secara simbolis Ibu-ibu memeram buah-buahan dan membuat tape artinya nyekeb (mengungkung/ menguatkan diri).

PENYAJAAN

Hari Soma, Pon, Wuku Dungulan, atau 2 hari sebelum Galungan. Turunnya Sang Bhuta Dungulan yang menggoda manusia lebih kuat lagi untuk berbuat adharma. Dungul dalam Bahasa Kawi artinya takluk; Bhuta Dungulan adalah sifat manusia yang ingin menaklukkan sesama atau sifat ingin menang.

Manusia agar lebih menguatkan diri memuja Bhatara Siwa agar terhindar dari sifat buruk itu. Secara simbolis membuat jaja artinya nyajaang (bersungguh-sungguh membuang sifat dungul).

PENAMPAHAN

Hari Anggara, Wage, Wuku Dungulan, atau 1 hari sebelum Galungan. Turunnya Sang Bhuta Amangkurat yang menggoda manusia lebih-lebih kuat lagi untuk berbuat adharma. Amangkurat dalam Bahasa Kawi artinya berkuasa. Bhuta Amangkurat adalah sifat manusia yang ingin berkuasa.

Manusia agar menuntaskan melawan godaan ini dengan memuja Bhatara Siwa serta mengalahkan kekuatan Sang Bhuta Tiga (Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan, dan Bhuta Amangkurat).

Secara simbolis memotong babi “nampah celeng” artinya “nampa” atau bersiap menerima kedatangan Sanghyang Dharma. Babi dikenal sebagai simbol tamas (malas) sehingga membunuh babi juga dapat diartikan sebagai menghilangkan sifat-sifat malas manusia.

Sore hari ditancapkanlah penjor lengkap dengan sarana banten pejati yang mengandung simbol “nyujatiang kayun” dan memuja Hyang Maha Meru (bentuk bambu yang melengkung) atas anugerah-Nya berupa kekuatan dharma yang dituangkan dalam Catur Weda di mana masing-masing Weda disimbolkan dalam hiasan penjor sebagai berikut:

  1. lamak simbol Reg Weda,
  2. bakang-bakang simbol Atarwa Weda,
  3. tamiang simbol Sama Weda,
  4. sampian simbol Yayur Weda.Di samping itu penjor juga simbol ucapan terima kasih ke hadapan Hyang Widhi karena sudah dianugerahi kecukupan sandang pangan yang disimbolkan dengan menggantungkan beraneka buah-buahan, umbi-umbian, jajan, dan kain putih kuning.

Pada sandyakala segenap keluarga mabeakala, yaitu upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Galungan.

GALUNGAN

Hari Buda, Kliwon, Wuku Dungulan, merupakan perayaan kemenangan manusia melawan bentuk-bentuk adharma terutama yang ada pada dirinya sendiri. Bhatara-Bhatari turun dari Kahyangan memberkati umat manusia. Persembahyangan di Pura, Sanggah Pamerajan bertujuan mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi atas anugrah-Nya itu.

MANIS GALUNGAN

Hari Wraspati, Umanis, Wuku Dungulan, 1 hari setelah Galungan, melaksanakan Dharma Santi berupa kunjungan ke keluarga dan kerabat untuk mengucapkan syukur atas kemenangan dharma dan mohon maaf atas kesalahan-kesalahan di masa lalu.

Malam harinya mulai melakukan persembahyangan memuja Dewata Nawa Sangga, mohon agar kemenangan dharma dapat dipertahankan pada diri kita seterusnya.

Pemujaan di malam hari selama sembilan malam sejak hari Manis Galungan sampai hari Penampahan Kuningan disebut sebagai persembahyangan Nawa Ratri (nawa = sembilan, ratri = malam) dimulai berturut-turut memuja Bhatara-Bhatara: Iswara, Mahesora, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambu, dan Tri Purusa (Siwa-Sada Siwa-Parama Siwa).

PEMARIDAN GURU

Hari Saniscara, Pon, Wuku Dungulan, 3 hari setelah Galungan merupakan hari terakhir Wuku Dungulan meneruskan persembahyangan memuja Dewata Nawa Sangga khususnya Bhatara Brahma.

ULIHAN

Hari Redite, Wage, Wuku Kuningan, 4 hari setelah Galungan, Bhatara-Bhatari kembali ke Kahyangan, persembahyangan di Pura atau Sanggah Pamerajan bertujuan mengucapkan terima kasih atas wara nugraha-Nya.

PEMACEKAN AGUNG

Hari Soma, Kliwon, Wuku Kuningan, 5 hari setelah Galungan. Melakukan persembahan sajen (caru) kepada para Bhuta agar tidak mengganggu manusia sehingga Trihitakarana dapat terwujud.

PENAMPAHAN KUNINGAN

Hari Sukra, Wage, Wuku Kuningan, 9 hari setelah Galungan. Manusia bersiap nampa (menyongsong) hari raya Kuningan. Malam harinya persembahyangan terakhir dalam urutan Dewata Nawa Sanga, yaitu pemujaan kepada Sanghyang Tri Purusha (Sisa, Sada Siwa, Parama Siwa).

KUNINGAN

Hari Saniscara, Kliwon, Wuku Kuningan, 10 hari setelah Galungan. Para Bhatara-Bhatari turun dari Kahyangan sampai tengah hari.

Manusia mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi atas wara nugrahanya berupa kekuatan dharma serta mohon agar kita senantiasa dihindarkan dari perbuatan-perbuatan adharma.

Secara simbolis membuat sesajen dengan nasi kuning sebagai pemberitahuan (nguningang) kepada para preti sentana agar mereka mengikuti jejak leluhurnya merayakan rangkaian hari raya Galungan – Kuningan.

Selain itu menggantungkan “tamiang” di Palinggih-palinggih sebagai tameng atau perisai terhadap serangan kekuatan adharma.

PEGAT UWAKAN

Hari Buda, Kliwon, Wuku Paang, satu bulan atau 35 hari setelah Galungan, merupakan hari terakhir dari rangkaian Galungan. Pegat artinya berpisah, dan uwak artinya kelalaian. Jadi pegat uwakan artinya jangan lalai melaksanakan dharma dalam kehidupan seterusnya setelah Galungan. Berata-berata nguncal balung berakhir, dan selanjutnya roda kehidupan terlaksana sebagaimana biasa.

sumber:stitidharma

Hari Raya Soma Ribek (Soma Pon Uku Sinta)


Soma Pon Wuku Sinta.

Hari Soma Pon Sinta, disebut hari raya Soma Ribek. Menurut Sundari Gama (Sinar Agama) pada hari ini Sanghyang Tri Murti Mrtha beryoga, dengan pulu / lumbung (tempat beras dan tempat padi) selaku tempatnya.

Pada hari tersebut umat Hindu di Bali disarankan memusatkan perhatian kepada rasa syukur atas keberadaan pangan. Secara fisik dicerminkan dengan melaksanakan tindakan-tindakan khusus terhadap padi dan beras, misalnya: tak boleh menumbuk padi, menggiling beras dan sebagainya. Mengadakan widhi widana seperti lazimnya, dipersembahkan pada tempat- tempat penyimpanan beras dan padi, sebagai makanan pokok.
Boleh dikatakan, hari ini adalah Hari Pangan bagi umat Hindu. Pada saat- saat itu kita diminta ngastiti Sang Hyang Tri Pramana yaitu: Cri, Sadhana dan Saraswati. Terutama hendaklah kita mengisap sarining tattwa adnjana yaitu memetik sari-sari ajaran-ajaran kebenaran / ketuhanan.

sumber: babadbali

Hari Raya Soma Pon Sinta ( Some Ribek )

Hari ini jatuh pada Sapta wara Soma atau hari senin, kemudian Panca waranya adalah Pon, dan Wukunya adalah Sinta. Hari ini nama lainnya adalah hari raya Soma Ribek. Hari ini adalah sebah hari dimana kita menghaturkan bhakti kehadapan Ida Bhatari Sang Hyang Sri Amertha. Atau dengan kata lain manifestasi dari Bhatari Sri yang memberikan kemakmuran duniawi.
Karena ini berkaitan dengan kemakmuran, maka dijaman dahului ketika hari raya Soma Ribek datang, masyarakat Hindu di Bali melakukan perembahan kepada Ida Bhatari dengan menghaturkan banten di setiap Lumbung, atau Jineng dan tempat-tempat penyimpanan beras. Oleh sebab banyaknya peralatan pertanian yang diupacarai saat hari raya ini, maka masyarakat Hindu Bali yang memiliki provesi sebagai petani tidak diperkenankan untuk melakukan aktivitas seperti menumbuk padi, dan juga memanen padi. Jika hal ini dilanggar, maka akan ada satu konsekwensi yang sangat tegas terjadi dan akan menimpa yang bersangkutan. Keyakinan ini sudah ada sejak jaman dahulu, oleh sebab itu, manusia Bali terus menjaganya agar tetap lestari, dan percaya ataupun tidak, setiap kalihal ini dilanggar, maka akan terjadi kelaparan yang berkepanjangan menimpa orang yang bersangkutan.
Hari ini juga diyakini oleh sebagian besar umat Hindu bahwa jika Soma Ribek datang, maka masyarakat Hindu Bali sangat dilarang keras untuk tidur siang. Sebab alasannya adalah bahwa di saat siang hari Ida Bhatara Sang Hyang Paramesti Guru tengah melakukan yoga dan kita sebagai umat Hindu harus senantiasa menghormati beliau yang tengah melakukan yoga demi kesejahteraan dunia.

Banten Soma Ribek:

  1. Banten nyahnyah geringsing, geti-geti.
  2. Pisang emas, canang lengewangi.

Pada hari itu, disebutkan orang-orang tidak boleh menumbuk padi ataupun menjual beras, karena akan dikutuk oleh Bhatari Sri yang dalam lontar sundarigama disebutkan.

“Ri kalanika, ikang wang tan wenang anumbuk pari, ngadol beras kunang, katemah denira bhatari sri, pakenanya wnang astiti ring sanghyang pramana, angisep sari ning tatwajnana, aja aturu ring rahina”.


Banten ini dihaturkan di lubung atau jineng dan dipersembahkan kepada Ida Bhatara Sri Amertha. Kemudian jangan lupa juga menghaturkan banten tersebut ditempat makan, di tempat penyimpanan beras, dan sebagainya yang berhubungan dengan makanan serta kehidupan masyarakat di sana.
Ada juga yang menghaturkan banten di hari Soma Ribek dengan mempersembahkan Tipat sari, dan dengan dibarengi Canang raka, disetiap palinggih yang terdapat di Mrajan atau di sanggah. Dengan kata lain saat Soma Ribek, maka setiap palinggih yang ada dihaturkan Tipat sari dengan canang raka. Cukup dengan pisang yang disisir tipis dan di tempatkan di bagian atasnya berupa Plaus atau sebagian orang lain menyebutkannya sebagai Wadah Base yang biasa terdapat di banten Ajuman.
Dalam canang meraka inilah umat bisa saja membuatnya dengan buah pisang yang diiris tipis dan dilengkapi denan raka-raka seperti jajan gina, uli, kacang saur sebagai ulamnya, kemudian dilengkapi juga dengan nasi dan barulah diberikan tipat sari sebagai cirri utama Soma Ribek. Dengan demikian umat tidak merasa diberatkan dengan banten sekecil itu. Namun yang jelas banten itu harus ada disetiap pelinggih dan tempat-tempat lain yang ada nilai sakralnya, seperti jineng ataupun kelumpu.

sumber: FB SPIRITUAL BALI

SARASWATI, MOMENTUM MEMULIAKAN IBU DAN ILMU PENGETAHUAN


Hari suci Saraswati merupakan hari suci berdasarkan wuku (pawukon) yang dirayakan setiap 210 hari (6 bulan) sekali yaitu pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Hari ini disebut juga sebagai Piodalan Sang Hyang Aji Saraswati. Perayaan ini dilaksanakan sebagai ungkapan puji syukur dan puja kepadanya-Nya atas diturunkannya ilmu pengetahuan suci bagi umat manusia; juga memohon kelanggengan ilmu pengetahuan dan dapat berjaya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Saraswati berasal dari bahasa Sanskerta yaitu dari kata saras artinya sesuatu yang mengalir, dan wati adalah akhiran dalam Sanskerta yang bermakna memiliki. Jadi Saraswati bermakna sesuatu yang mengalir, percakapan, atau kata-kata. Di dalam kitab suci Weda Saraswati dipuja sebagai Dewi sungai. Posisinya sebagai Dewi kata-kata baru ditemui dalam kitab-kitab Brahmana, Ramayana,dan Mahabharata. Saraswati dikenal sebagai Sakti Dewa Brahma. Dengan demikian sebutan Saraswati sejatinya telah muncul sejak jaman Weda. Seiring perkembangannya Saraswati memiliki banyak gelar yang merupakan pengejawantahan dari salah satu ayat dalam kitab suci yaitu : Ekam satwiprah bahuda  wadanti, yang artinya hanya satu Tuhan tetapi para orang arif bijaksana menyebut-Nya dengan banyak nama. Saraswati juga dikenal sebagai Dewi Ilmu pengetahuan karena sebuah kisah dalam purana yang menyebutkan ketika Saraswati turun kedunia, beliau memiliki saudara yang bernama Saraswata. Saraswata sangatlah bodoh banyak Guru yang tidak mau mengajarinya. Saraswati merasa kasihan kepada saudaranya itu kemudian Saraswati mengajarkan kepada Saraswata intisari dari keempat Kitab Weda yang sangat luas kepada Saraswata hanya dalam waktu 4 hari. Bahkan Narada pun dibuat bingung akan luasnya intisari Weda yang di ajarkan oleh Saraswati oleh karena itulah Dewi Saraswati disebut sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan. Secara simboliasi visual, Dewi Saraswati dilukiskan sebagai dewi yang sangat cantik, bertangan empat dengan masing-masing tangan memegang genitri (tasbih), keropak (pustaka/lontar), wina (sejenis alat musik petik), dan teratai (lotus). Di dekatnya terlukis seekor burung merak dan angsa. Simbol-simbol tersebut memiliki arti sebagai berikut:

  1. Wanita cantik : Sifat pengetahuan itu sangat mulia, lemah lembut dan menarik hati.Penguasaan ilmu pengetahuan merupakan obsesi tiap manusia, karena dengan ilmu pengetahuan kita dapat menyasar tujuan hidup mencapai jagadhita dan menuju moksa.
  2. Genitri : Lambang bahwa pengetahuan itu tidak ada awal dan akhirnya. Selama hidup tidak akan habis dipelajari
  3. Keropak : Keropak : Lambang dari sumber pengetahuan. Tuhan merupakan sumber segala pengetahuan yang anadi-ananta, dan beliau merupakan pengetahuan yang sejati.
  4. Wina: Ilmu pengetahuan itu sesungguhnya bernilai seni. Penguasaan ilmu pengetahuan menimbulkan vibrasi kesucian, membangkitkan estetika (Sundaram), menuntun menuju jalan yang benar (Satyam), dan memperoleh kemuliaan (Sivam).
  5. Teratai: Teratai : Simbol dari kesucian Sang Hyang Widhi. Bunga teratai hidup di tiga alam yaitu akarnya di dalam lumpur, batangnya hidup dalam air dan bunganya mekar di udara. Demikianlah ilmu pengetahuan akan tumbuh, berkembang dan bermanfaat di tempat manapun.
  6. Merak:  Simbol kewibawaan. Ilmu pengetahuan itu akan memberikan kewibawaan bagi orang yang menguasainya .
  7. Angsa : Melambangkan bahwa ilmu pengetahuan memberi kekuatan yang sangat bijaksana. Dengan ilmu pengetahuan manusia mampu memilih dan memilah-milah mana yang sejati dan mana yang ilusi, mana yang mendatangkan kesenangan duniawi dan mana yang menghadirkan ketenangan rohani. Penguasaan pengetahuan menjadikan seseorang memiliki wiweka.

Rangkaian pelaksanaan perayaan hari raya Saraswati umumnya diisi dengan persembahyangan pada pagi harinya bertempat di Pura, di sekolah, kantor, tempat penyimpanan lontar atau buku-buku perpustakaan. Lalu pada malam harinya dilaksanakan malam sastra dengan pembacaan sloka-sloka kitab suci keagamaan, makekawin, dan ceritacerita yang berhubungan dengan ajaran dharma (Dharma Wacana dan Dharma Tula).

Kemudian keesokan harinya pada redita pahing wuku Sinta melaksanakan upacara Banyupinaruh atau mandi suci, yaitu sebagai simbol telah mendapatkan anugrah ilmu pengetahuan suci. Perayaan Saraswati identik dengan hari rayanya pelajar karena sebagian besar umat yang merayakannya adalah kaum pelajar/siswa. Para siswa akan sangat antusias menyambut datangnya Saraswati. Namun sesungguhnya tidak seperti itu. Setiap hari raya Hindu apapun itu pastilah diperuntukkan bagi umat Hindu, termasuk Saraswati. Jadi, sekalipun Saraswati merupakan peringatan turunnya ilmu pengetahuan bukan berarti hanya kaum pelajar saja yang merayakannya. Perlu diingat bahwa pengetahuan suci diperuntukkan bagi semua kalangan, tidak tergantung dari usia/umur, ras, suku, warna, maupun bangsa. Hal ini dipertegas dalam salah satu mantram Yajur Weda : “Aku sabdakan kata-kata suci ini kepada seluruh umat manusia, Waisya, Sudra, bangsa-Ku, dan bahkan kepada bangsa asing sekalipun”. Di sisi lain, tentu kita masih ingat akan ungkapan “Long Life Education”, pengetahuan sepanjang masa. Maksudnya adalah ilmu pengetahuan itu bisa dipelajari sepanjang hayat, tak peduli usia. Karena itu, sangatlah keliru jika Saraswati disebut hari raya khusus bagi pelajar. Mempelajari ilmu pengetahuan sangatlah penting bagi umat manusia. Apalagi dengan semakin berkembangnya teknologi dan informasi. Maka peranan pengetahuan atau pendidikan sangatlah utama. Ilmu pengetahuan yang perlu dipelajari tidak terbatas jenisnya, karena semua ilmu meski sedikit pastilah ada manfaatnya. Dalam ajaran Hindu, ada dua macam pengetahuan yang wajib dipelajari manusia yaitu Para Widya dan Apara Widya. Para Widya adalah pengetahuan kerohanian atau keagamaan (spiritual), dan Apara Widya adalah ilmu pengetahuan keduniawian (sains). Kedua macam ilmu pengetahuan ini sangat berguna untuk menuntun hidup manusia menuju Moksartham Jagadhita. Sebagaimana disebutkan dalam Manawa Dharma Sastra, V.109 :

Adbhirgatrani suddhyanti,

manah satyena suddhyanti

widyatapobhyam bhutatma

budhhir jnyanena suddyanti.

Artinya: Badan dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran dan kejujuran (satya), atman dibersihkan dengan ilmu pengetahuan suci dan tapa brata, budhi disucikan dengan dhyana (pengetahuan pembandingan yang baik dan benar)

Sangat jelas dalam sloka ini disebutkan bahwa badan kasar dibersihkan dengan air namun lapisan paling halus badan manusia yaitu atma yang merupakan sumber hidup manusia dibersihkan dengan ilmu pengetahuan. Demikianlah pentingnya ilmu pengetahuan menurut Kitab Suci.

Kemudian jika dikaitkan antara Saraswati dan kemuliaan ibu maka perlu dipahami terlebih dahulu peranan dan konsep ibu dalam agama Hindu. Di dalam Kitab Weda ada enam komponen yang disebut sebagai ibu, yaitu ibu yang melahirkan kita, istri raja/kepala negara, istri guru kerohanian/pendeta, perawat/bidan yang membantu kelahiran, sapi, dan bumi pertiwi. Namun, sorotan kita tentu dominan tertuju pada ibunda yang melahirkan kita, guru rupaka kita, di mana kita semua berhutang kelahiran, pemeliharaan, dan pendidikan padanya.

Ibu sebagai Guru Rupaka, adalah sosok guru yang pertama kali memberikan pendidikan dan pengetahuan kepada kita, bahkan semenjak masih berada dalam kandungan. Ibu yang mengasuh kita, mengajari kita bicara, duduk, berjalan, dan sebagainya. Karena itu, tak heran bila Ibu (Mother) sesungguhnya mendapat tempat yang sangat mulia dalam Hindu. Dalam konsep keTuhanan, ibu merupakan kekuatan (Sakti) dari para Dewa. Sakti ini yang sangat berperan ketika para Dewa sebagai manifestasi Tuhan melakukan tugas dan fungsinya. Dengan kata lain, tanpa Sakti, Dewa-dewa tersebut tak bisa melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik.

Demikian juga peranan ibu dalam hidup manusia, demikian penting, sentral dan dominan dalam memberikan kasih sayang, pemeliharaan dan pendidikan awal pada umat manusia. Lebih-lebih pada saat sang ibu mempertaruhkan segenap jiwa dan raganya dalam melahirkan kita semua. Saat ini kita hidup di abad 21 sebagai abad kesetaraan gender atau abad perempuan yang identik dengan apresiasi feminitas dan kemuliaan seorang wanita/ibu, dapat menjadi dimensi proyeksi pemaknaan Saraswati. Jika kita ambil pendekatan makna mitologi historis dari urutan-urutan perayaan Saraswati maka ada suatu untaian kronologis antara tahapan kehidupan manusia, peranan ibu, dan hari Saraswati. Jadi, ada rangkaian makna yang bisa diambil dari sebelas urutan wariga (perhitungan hari berdasarkan kalender Hindu) tersebut mulai dari hari Pemelastali, Candung Watang, dan lain-lainnya hingga Pagerwesi.

  1. Redite Kliwon Watugunung sebagai hari Pemelastali yang dimaknai sebagai saat sang bayi yang ada di rahim ibu akan meninggalkan habitatnya yang selama delapan bulan dihuninya. Pemelastali artinya dipisahkan atau dilepaskan/ditinggalkan.
  2. Soma Umanis Watugunung sebagai hari Candung Watang, di mana sang ibu berjuang menahan rasa sakit, saat sang bayi memposisikan diri dekat dengan mulut rahim.
  3. Anggara Paing Watugunung, sebagai hari Paid-paidan, merupakan peringatan pergulatan sang ibu pada saat sang bayi tampak di mulut rahim, dan terkadang tidak nampak lagi, terjadi tarik menarik dalam waktu tertentu.
  4. Buda Pon Watugunung, sebagai hari Urip Kelantas, di mana berkat anugrah Sang Maha Pengasih, jabang bayi lahir dengan selamat dan diberi urip atau kehidupan.
  5. Wraspati Wage Watugunung sebagai hari Pategtegan, merupakan tonggak imulainya sang ibu mencurahkan segenap kasih sayangnya kepada sang bayi yang baru lahir.
  6. Sukra Kliwon Watugunung, sebagai hari Pangredanan, di mana sang bayi telah tumbuh menjadi balita, anak-anak, dan sudah mulai memerlukan pendanaan untuk biaya sekolah.
  7. Saniscara Umanis Watugunung sebagai hari Saraswati, salah satu mata rantai tahapan yang penuh makna, di mana umat manusia secara ulet dan penuh ketekunan menimba ilmu pengetahuan baik lewat jalur formal, nonformal, maupun otodidak.
  8. Redite Paing Sinta sebagai hari Banyupinaruh, Banyu pinaruh berasal dari kata banyu yang artinya air dan pangaweruh yang artinya pengetahuan yang menyiratkan makna bahwa ilmu pengetahuan itu harus diakses terus-menerus sepanjang hayat (Long life education).
  9. Soma Pon Sinta sebagai hari Soma Ribek yang memberi makna bahwa akumulasi pengetahuan yang diperoleh akan memudahkan manusia menghidupi dirinya sendiri.
  10. Anggara Wage Sinta sebagai hari Sabuh Emas di mana melalui ilmu pengetahuan, dan memperdayakannya dalam kehidupan ini akan membuat manusia hidup makmur, berkecukupan artha, kaya material dan spiritual, dan jagadhita dapat terealisasikan.
  11. Buda Kliwon Sinta sebagai hari Pagerwesi, sebuah tonggak angayubagya kepada Sang Catur Guru atas berkah kehidupan, pengetahuan, perlindungan dan urip yang diberikan kepada umat manusia.

Begitulah untaian makna dari kronologi perayaan Saraswati yang dirayakan umat Hindu. Dengan demikian, Saraswati sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan, dimana kita memuja Sang Hyang Saraswati/Dewi Saraswati ternyata bisa dijadikan momentum untukmemperingati sekaligus mengenang kemuliaan dan kasih sayang ibu. Karena itu, Saraswati hendaknya juga dijadikan momen untuk menghormati ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kita.

Oleh : Ni Kadek P. Noviasih